Rumah Lawan COVID-19 Tangsel Akan Bangun Tenda Berkonsep Glamping, Apa Itu?

Rahmat Fathan - detikNews
Sabtu, 09 Jan 2021 16:04 WIB
Konsep Rumah Lawan COVID-19 (Dok Istimewa)
Konsep Rumah Lawan COVID-19 (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Rumah Lawan COVID-19 (RLC) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bakal membangun tenda dengan konsep glamorous camping atau glamping untuk pasien Corona. Nantinya, pasien Corona di RLC bisa tinggal di dalam tenda berkonsep glamping.

Koordinator RLC Kota Tangerang Suhara Manullang mengatakan pembangunan tenda berkonsep glamping itu bukan lantaran kapasitas pasien di RLC sudah penuh. Dia berujar jumlah pasien yang sedang berada di RLC saat ini sebanyak 126 orang. Sementara itu, fasilitas yang ada saat ini mampu menampung 150 orang.

Menurutnya, tenda yang nantinya dibangun bakal mampu menampung 150 orang, sehingga total pasien yang dapat ditampung RLC ketika tenda glamping itu selesai dibangun berjumlah 300 orang. Secara rinci, Suhara menjelaskan satu tenda glamping nantinya akan akan diisi oleh 10 pasien.

"Tetap privasi masing-masing ada. Jadi tidak gelar tempat tidur, masing-masing. Kamar mandi, toilet, kemudian fasilitas mesin cuci, setrika. Bahkan sekarang konsepnya mereka juga bisa barbeque atau apa gitu istilahnya. Jadi di setiap lima tenda, di tengahnya itu ada untuk santailah kalau malam. Pokoknya suasananya suasana camping," tutur dia.

Tak hanya itu, kepada pasien yang dirawat di tenda juga disediakan fasilitas Wi-Fi dan smart TV. Di sisi lain, pengamanan dan pengawasan terhadap pasien juga akan dilengkapi CCTV.

"Saya kira itu. Secara fasilitasnya hampir sama kayak sekarang, cuma ke model tenda saja," pungkas Suhara.

Selain itu, Suhara Manullang mengatakan konsep tenda glamping bagi pasien COVID-19 di RLC itu dilakukan guna mengurangi potensi stres. Dia juga membandingkan antara perawatan pasien corona yang ada di wisma dengan di RLC.

"Meniadakan stres. RLC yang ada sekarang sudah menjawab itu sekaligus juga suasana kekeluargaan, berinteraksi satu dengan yang lain sepenanggungan, sependeritaan, itu ternyata membantu juga. Kalau konsep wisma atau hotel itu kan paling hanya satu kamar saja. Sementara RLC itu kan ada aktivitas olahraga bersama, makan bersama. Berjemur bersama. Nah, ini yang menjadi sesuatu inti substansi," jelasnya.

Dia menjelaskan, istilah glamorous camping bukan berarti pasien akan menerima fasilitas yang mewah. Kata dia, konsep ini menekankan pada pendekatan humanis sehingga terciptanya suasana yang nyaman untuk para pasien.

"Untuk lebih suasana, kan mereka yang orang tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan. Jangan sampai masuk ke gejala berat," ucapnya.

"Nah, dari awal masuk, kalau kita positif kan mikirnya udah macem-macem. Apalagi dijemput ambulans, stres. Nah, dengan masuknya suasana alam, terbuka, petugas juga ramah, suasana saling mendukung, ini yang lebih efektif kelihatannya tuh. Glamor tidak, cuman tetap tenda yang bisa nyaman. Itu sebetulnya. Jadi bukan ke glamornya," imbuhnya.

(hel/hel)