Umumkan DKI PSBB Ketat, Anies Singgung Lonjakan Kasus Usai Libur Panjang

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 09 Jan 2021 13:18 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan panggilan video dengan keluarganya saat menjalani isolasi di rumah dinasnya di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/12/2020). Anies Baswedan terkonfirmasi positif COVID-19 sejak Selasa (1/12) setelah melakukan tes usap PCR pada Senin (30/11) dan saat ini menjalani isolasi mandiri tanpa didampingi keluarga. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
Foto: Aditya Pradana/Antara Foto
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyinggung lonjakan jumlah kasus setelah liburan panjang saat mengumumkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat. Anies menyebut beberapa kali Jakarta mengalami lonjakan jumlah kasus setelah libur panjang.

Awalnya, Anies Baswedan menyampaikan perjalanan PSBB di Jakarta yang dimulai sejak pertengahan April 2020. Menurut Anies, setelah PSBB diterapkan, penambahan kasus harian COVID melandai.

Kemudian, pada Juni 2020, keluar kebijakan PSBB masa transisi. Saat itu, kasus sudah mulai naik.

"Bulan Juni melakukan yang disebut PSBB transisi, mulai ada pelonggaran dan kasus bergerak naik. Saat itu, kita masih imbangi dengan fasilitas perawatan, fasilitas isolasi," kata Anies.

Menurut Anies, lonjakan signifikan terjadi pada Agustus 2020. Ada dua kali libur panjang yang berakibat kasus melonjak naik.

"Di bulan Agustus itu ada cuti bersama. Ada liburan cukup panjang, 15-17 Agustus, 20-23 Agustus. Sehingga banyak berlibur di 15-23 Agustus," kata Anies.

"Apa terjadi? Dua minggu setelah libur panjang, penambahan kasus harian dan penambahan kasus aktif melonjak dengan amat cepat," kata Anies.

Dua minggu setelah liburan panjang, pada periode 30 Agustus sampai 11 September 2020, kasus aktif COVID-19 naik hampir 50 persen. Alasan itu yang dijadikan Anies menarik rem darurat pertama.

"(Lonjakan) 49 persen dari 7.960 kasus menjadi 11.824 kasus. Bahkan kematian loncat 17 persen. Ini membuat pada waktu itu, kami harus lakukan tindakan tegas, cepat, yaitu menarik emergency break, rem darurat, itu umumkan tanggal 9 September, dijalankan 14 September," ujarnya.

Anies menyebut kebijakan itu berhasil. Meski sempat ada perdebatan dengan kebijakan tersebut.

"Saat itu ada pro dan kontra, tapi apa efeknya, ketika mengambil kebijakan PSBB (ketat) di bulan September, lalu mulai landai. Kalau saja kita abaikan, tidak melakukan intervensi, grafik (kasus aktif) ini bisa naik terus," ucapnya.

"Apa yang terjadi, melandai dan melihat terjadi penurunan, dan di sini penurunan," katanya.

Anies sempat menyinggung soal adanya aksi demonstrasi di Jakarta. Namun aksi tersebut tidak membuat kenaikan kasus Corona secara signifikan.

"Oktober, sesungguhnya ada peristiwa yang mengkhawatirkan, 11-16 Oktober banyak demo di Jakarta. Tapi ternyata sama sekali tidak membuat jumlah kasus aktif di Jakarta meningkat. Justru angkanya turun," katanya.

Tonton video 'Anies Klaim PSBB Ketat Efektif Turunkan Kasus Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



Lihat berita selengkapnya di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2