Fadli soal Rusuh Pendukung Trump di Kongres AS: Sistem Lebih Kuat dari Figur

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 18:11 WIB
Politikus Gerindra Fadli Zon mengusulkan agar pemerintah memberikan gelar Kota Perjuangan kepada Bukittinggi.
Fadli Zon (Jeka Kampai/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Fadli Zon menyoroti dinamika demokrasi dalam proses pengesahan Joe Biden sebagai presiden terpilih Amerika Serikat di Gedung Capitol. Ia tidak menyangka AS yang dianggap sebagai negara unggul demokrasi, gagal menjaga nilai demokrasi.

"Dua hari mengikuti dinamika demokrasi di AS, ternyata di negara kampiun demokrasi saja gagal menjaga nilai demokrasi," kata Fadli Zon seperti dikutip dalam akun Twitter-nya, @fadlizon, Jumat (8/1/2021).

Namun, Fadli menilai AS masih mampu menjaga sistem pemerintahan sehingga lebih kuat dari sosok figur mana pun. Ia mengatakan kuatnya sistem AS dapat menaklukkan Eks Presiden AS Donald Trump yang menurutnya cenderung suka bersikap semena-mena.

"Tapi mereka berhasil menjaga sistem sehingga lebih kuat dari figur dan sistem itu yang jadi tempat kembali, konstitusi dan UU. Akhirnya Trump yang sewenang-wenang patah sendiri," ujarnya.

Fadli membuat cuitan itu untuk menanggapi unggahan Mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019, Fahri Hamzah. Fahri Hamzah menyebut Amerika sudah membekuk dan membuat Trump menyerah.

"Akhirnya Presiden Trump nyerah, Senang melihat cara demokrasi Amerika, membekuk presiden yg gak paham demokrasi. Tidak mereka biarkan ia merusak sistem dan membelah rakyat. Selamat tinggal Trump, pengusaha memang jarang yg baca konstitusi sih. Balik aja jadi pedagang," ujar Fahri.

Diberitakan sebelumnya, Kongres AS resmi mengesahkan kemenangan Presiden terpilih AS, Joe Biden, dalam pilpres AS 2020. Sebelum Joe Biden disahkan, sempat terjadi kerusuhan saar proses pengesahan itu.

Kepolisian Washington DC di Amerika Serikat (AS) menangkap puluhan orang terkait aksi kekerasan di Gedung Capitol yang didalangi oleh para pendukung Presiden Donald Trump yang memprotes hasil pilpres AS 2020. Beberapa orang yang ditangkap kedapatan membawa senjata api tanpa izin.

Seperti dilansir CNN, Kamis (7/1), Kepala Kepolisian Metropolitan Washington DC, Robert Contee, dalam konferensi pers mengumumkan ada 52 orang yang ditangkap terkait aksi penyerbuan Gedung Capitol AS, yang diwarnai aksi perusakan dan bentrokan sengit dengan polisi yang berjaga.

Secara terpisah, Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Joe Biden, pun menyatakan para pendukung Presiden Donald Trump yang memicu kerusuhan di Gedung Capitol AS tidak pantas disebut pengunjuk rasa. Biden menyebut mereka sebagai 'teroris domestik'.

"Jangan menyebut mereka pengunjuk rasa. Mereka adalah gerombolan perusuh, pemberontak, teroris domestik," ucap Biden saat berbicara di kota asalnya, Wilmington, Delaware, untuk mengomentari kerusuhan di Gedung Capitol AS seperti dilansir Reuters, Jumat (8/1).

(hel/aud)