Kutu Busuk Bikin Repot Australia
Jumat, 03 Feb 2006 16:11 WIB
Jakarta - Kutu busuk benar-benar merepotkan Australia. Bahkan sektor pariwisata negeri Kanguru itu diperkirakan merugi sebesar 100 juta dolar Australia (sekitar Rp 703 miliar) per tahun akibat gigitan serangga penghisap darah itu.Demikian hasil studi terbaru mengenai serangga yang dikeluarkan Institut Patologi Klinis dan Riset Medis di Rumah Sakit Westmead, Sydney, Australia.Menurut riset tersebut, beberapa pengendali hama telah melaporkan kenaikan lebih dari 1.000 persen dalam wabah kutu busuk ini. Wabah ini merupakan bagian dari epidemi global, dengan jumlah kutu busuk yang meningkat dua kali lipat setiap tahun di belahan dunia."Inggris, Eropa dan sebagian besar Amerika telah melaporkan kemunculan kutu busuk ini," ujar Stephen Doggett, ahli serangga di institut media Australia tersebut, seperti diberitakan Reuters, Jumat (3/2/2006).Para pengelola hotel dan pengendali hama di Amerika Serikat juga telah melaporkan peningkatan 20 persen wabah kutu busuk selama tahun 2004 lalu. Serangan kutu busuk itu telah menyebabkan sejumlah hotel dituntut oleh tamu-tamu mereka yang digigit binatang menjijikkan itu. Belum lagi kerugian akibat ditutupnya kamar hotel yang mengalami serangan kutu busuk. "Kutu busuk tidak pernah menjadi masalah kesehatan publik yang serius di Australia selama 50 tahun sebelum kemunculan mereka baru-baru ini," kata Doggett. Serangga ini biasanya bersarang di kasur, karpet, lantai mobil dan tempat-tempat gelap.Dua spesies utama yang menggigit manusia adalah kutu busuk yang umum dikenal (Cimex lectularius) dan kutu busuk tropis (Cimex hemipterus). Beberapa orang mengalami keracunan darah akibat gigitan insekta ini. Serangan kutu busuk ini mendapat perhatian besar dari pemerintah Australia. Untuk itu Dewan Industri Pariwisata Queensland akan mengadakan konferensi kutu busuk guna membahas upaya memerangi masalah gigitan serangga tersebut. Pertemuan itu akan digelar pada 7 Februari mendatang.
(ita/)











































