Epidemiolog Minta Wacana Pembelajaran Campur di DKI Tunggu Corona Terkendali

Matius Alfons - detikNews
Minggu, 03 Jan 2021 07:43 WIB
Poster
Ilustrasi PJJ di Tengah Pandemi Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani menilai program blended learning atau pembelajaran campur sebagai langkah persiapan anak-anak sekolah menghadapi kebiasaan baru di tengah pandemi. Meski begitu, Laura menyebut pembelajaran campur sebaiknya menunggu Corona di DKI Jakarta terkendali.

"Program blended learning ini sebagai langkah kesiapan kita terutama anak-anak sekolah menghadapi adaptasi kebiasaan baru. Karena kebijakan ini dapat menampung aspirasi dari wali murid baik yang menginginkan anaknya bersekolah offline maupun online," kata Laura saat dihubungi, Sabtu (2/1/2020).

Laura menilai kebijakan blended learning ini mungkin bisa diterapkan ketika pandemi Corona di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, sudah menurun. Menurutnya, ini untuk mengurangi kemungkinan klaster baru ataupun penularan di sekolah.

"Tapi program blended learning ini sebaiknya memang tetap melihat situasi COVID-19 yang ada di masing-masing negara, misalkan DKI jakarta, kita tahu bahwa kasus COVID-19 di Indonesia masih sangat rawan dan belum terkendali," paparnya.

"Jadi bukan dibatalkan, tapi menunggu waktu ketika kasus COVID-19 telah terkendali untuk meminimalisir penyebaran kasus atau munculnya klaster sekolah," sambungnya.

Jika nantinya itu diterapkan, Laura menyebut sebagian pembelajaran yang dilaksanakan secara tatap muka harus dengan protokol kesehatan yang ketat. Kondisi pandemi di sekolah tersebut juga sudah terkendali.

"Blended learning ini sebagian offline dan sebagian online. Untuk yang offline harus dengan prokes yang ketat tapi harus pada kondisi kasus yang bisa dikatakan terkendali," ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2