Larang Merokok Sembarangan, Jakarta Selevel Washington DC
Jumat, 03 Feb 2006 10:30 WIB
Jakarta - Pemandangan antara Jakarta dan Washington DC jelas berbeda. Namun ada satu kesamaan yang sangat menonjol, yaitu keduanya sama-sama menerapkan larangan merokok sembarangan, utamanya di tempat kerja.Washington DC menerapkan aturan larangan merokok seenak udelnya itu pada 30 Januari 2006. Sedangkan Jakarta seminggu kemudian, tepatnya 4 Februari 2006. Larangan merokok juga berlaku untuk restoran dan bar."Harapan kita, seluruh Indonesia akan sama dengan Irlandia, Italia, Norwegia, Swedia, Selandia Baru, Uganda, Malta, Uruguay, dan Bhutan yang memberlakukan larangan merokok di seluruh tempat kerja di seluruh negara itu," papar Dr Tjandra Yoga Aditama, spesialis paru-paru RS Persahabatan pada detikcom, Jumat (3/2/2006).Negara bagian di AS yang menerapkan larangan merokok di tempat kerja adalah California, Delaware, New York, Connecticut, Maine, Massachusetts, Rhode Island, Montana, Vermont, Washington dan New Jersey.Sebagai aktivis antimerokok, Dr Tjandra juga banyak menerima e-mail dari masyarakat yang mengeluhkan minimnya sikap menghormati para perokok yang mengisap sigaretnya sembarangan."Bila ada asap rokok napas saya langsung sesak, tenggorokan jadi kering, belum lagi baunya mengenai pakaian saya. Saya merasa seperti tidak ada tempat yang nyaman lagi untuk bernapas karena setiap saya keluar rumah asap rokok selalu ada di mana-mana. Bahkan di bus yang ber-AC, sopir dan kondekturnya merokok," keluh Titi, dalam surat elektroniknya pada Dr Tjandra."Walau kita semua tahu pajak dari perusahaan rokok begitu besar, tapi pemerintah harus memperhatikan kesehatan rakyatnya juga. Indonesia itu kaya dengan sumber daya alamnya. Jadi kalau pemerintah kehilangan penghasilan dari pajak rokok, menurut hemat saya, Indonesia tidak akan bangkrut. Dikelola saja sumber daya alam yang lainnya dengan sebaik mungkin.""Saya berharap sekali sama dokter bisa menyampaikan keluh kesah saya ini kepada pemerintahan yang berhak untuk menangani hal ini karena saya pribadi tidak mempunyai power untuk menyampaikan hal ini malah mungkin mereka tidak mau mendengarkannya," tutur Titi yang mengeluhkan hal serupa ke SMS 9949, nomor kontak pada Presiden SBY.
(nrl/)











































