Koor Batuk Makin Nyaring

Catatan Haji

Koor Batuk Makin Nyaring

- detikNews
Jumat, 03 Feb 2006 09:36 WIB
Madinah - Batuk seakan sudah menjadi penyakit wajib bagi para jamaah haji. Biasanya, batuk disertai juga dengan penyakit flu. Penyakit ini memang sangat gampang menular melalui udara. Seusai puncak haji, koor batuk ini semakin nyaring terdengar di Masjid Nabawi. Meski ras dan suku jamaah haji berbeda-beda, namun suara batuknya sulit dibedakan. Sama saja suara batuk antara jamaah haji Indonesia dengan jamaah haji dari Turki. Saat para jamaah haji berkumpul di dalam masjid Nabawi, suara batuk saling bersahutan, tak ada detik yang terbebas dari suara batuk. Koor batuk jamaah haji ini paling nyaring terdengar saat menunggu salat subuh, karena situasi lebih hening dibanding waktu-waktu salat lain. Jumat (3/2/2006) subuh, suara batuk jamaah haji ini masih sangat nyaring bersahut-sahutan. Sebelumnya, saat sebelum puncak haji (9-13 Dzulhijjah), koor batuk jamaah haji di Masjid Nabawi sebenarnya sudah terdengar. Namun, jamaah masih belum merata terserang batuk, sehingga tidak begitu nyaring. Begitu puncak ibadah haji usai, koor batuk ini makin 'sempurna'. Jamaah haji terserang batuk dan flu saat musim haji adalah hal biasa, termasuk bagi jamaah haji Indonesia. Bahkan, ada plesetan yang sering diutarakan banyak orang; "tanpa batuk, haji tidak afdol'. Perbedaan cuaca antara negara asal dengan Arab Saudi bisa menjadi penyebab awal penyakit ini. Begitu ada jamaah haji yang terserang batuk, jamaah lain pun akan cepat tertular. Saat dan seusai puncak haji, lebih banyak jamaah haji yang terserang batuk dan flu. Menurut Kepala Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Daerah Kerja (Daker) Madinah, dr Subagyo SPP, banyaknya jamaah haji yang tertular batuk dan pilek, karena puncak ibadah haji adalah puncak kelelahan jamaah haji. Saat puncak haji, jamaah tidak mau tidak harus menjalankan rukun haji seperti wukuf di Arafah, mabit di muzdalifah, mabit di Mina, dan juga melempar jumrah. Saat melempar jumrah, jamaah haji harus berjalan kaki cukup jauh dari pemondokan menuju jamarat. "Banyak jamaah yang kelelahan, sehingga tubuhnya drop dan hal ini sangat mudah tertular penyakit," ujar dia. Menurut Subagyo, batuk yang diderita jamaah haji ini berasal dari virus internasional. Virus batuk yang menular ke jamaah-jamaah bisa berasal dari negara Afrika, Eropa, Asia atau kawasan lain. Karena itu, wajar bila ada jamaah haji Indonesia yang sudah tiba di tanah air selama 2 minggu, tetap saja masih batuk. Batuk sembuh dalam waktu yang lama. "Untuk mempercepat penyembuhan, ya diobati dengan obat yang bagus," kata Subagyo. Selain jamaah haji, petugas haji Indonesia juga tidak terlepas dari batuk ini. Banyak petugas haji yang berobat ke BPHI Madinah. Selain diberi antibiotik, petugas haji yang batuk ini juga dibekali dengan OBH (Obat Batuk Hitam) produksi Berlico Media Farma, Yogyakarta. Banyak kisah tentang penyembuhan batuk yang dilakukan para petugas haji ini. Ada petugas yang sengaja meminum OBH dalam dosis banyak, karena ingin cepat sembuh. Karena itu tak heran, bila hingga saat ini, ada petugas yang sudah menghabiskan 3 atau 4 botol OBH. Karena itu, OBH sering dipelesetkan dengan 'Obat Batuk Haji'. Ada juga petugas haji yang memilih membeli obat batuk yang dijual di apotik-apotik Arab Saudi. Banyak orang yang memiliki pengalaman dan mengatakan obat-obat batuk Arab Saudi, seperti Riaphan, lebih manjur. "Karena ini batuk Arab, ya penyembuhannya pakai obat batuk Arab," kelakar seorang petugas haji. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads