Kampanye Boikot Produk Denmark di Arab Saudi Berlanjut
Jumat, 03 Feb 2006 09:23 WIB
Madinah - Buntut karikatur Nabi Muhammad yang dilansir koran Denmark membuat marah kaum muslim di Arab Saudi. Boikot terhadap produk-produk Denmark terus dikampanyekan. Di banyak supermarket dipasang spanduk penolakan terhadap produk-produk Denmark. Selama ini Arab Saudi memang banjir produk-produk dari luar negeri, termasuk Denmark. Salah satu produk yang terkenal dan banyak dikonsumsi warga Arab Saudi adalah susu Nido. Sejak kasus karikatur Nabi Muhammad membuahkan protes kaum muslim di banyak negara, warga muslim di Arab Saudi, terutama di Riyadh dan Jeddah mengampanyekan boikot terhadap produk Denmark. Cara ini sebagai bentuk protes mereka terhadap koran Denmark yang telah menghina Nabi Muhammad dan agama Islam. Salah satu pusat pertokoan yang terpasang spanduk boikot produk Denmark ini adalah Supermarket Al Danub yang berada di jantung kota Jeddah. 'We Stop Denmark Product', begitu bunyi tulisan spanduk besar itu. Hingga Kamis (2/2/2006), masih banyak banyak plaza dan mal yang juga memasang spanduk boikot itu. Kampanye boikot terhadap produk Denmark ini juga digeber dengan penyebaran selebaran-selebaran. Selebaran-selebaran ini masuk juga ke Kota Madinah. Isi dalam selebaran itu intinya mengajak warga muslim tidak membeli produk-produk Denmark, karena Denmark telah melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dengan pembuatan karikatur tersebut. Kampanye boikot produk Denmark ini telah sampai ke telinga pemerintah Arab Saudi. Namun, pemerintah Arab Saudi menegaskan bahwa kampanye boikot produk Denmark ini bukan keputusan pemerintah, tapi sebagai respons spontan warga Arab Saudi. Kasus karikatur Nabi Muhammad ini telah menggulirkan protes dari banyak negara Islam. Bahkan, negara Libya pimpinan Moammar Khaddafi menutup sementara kedutaan besarnya di Denmark. Organisasi Konferensi Islam (OKI) juga telah mengecam sikap koran Denmark itu. Pemerintah Denmark sendiri tidak memberikan sanksi terhadap koran Denmark yang telah mengkarikaturkan dan menghina Nabi Muhammad itu. Namun, karena desakan meluas secara internasional, akhirnya koran Denmark mau meminta maaf.
(asy/)











































