Memburu Penjahat Kerah Putih

Ulasan Media

Memburu Penjahat Kerah Putih

- detikNews
Jumat, 03 Feb 2006 09:08 WIB
Jakarta - Mantan Kepala BPPN diperiksa kejaksaan karena menjual aset secara tak patut. Dua bos televisi, Abdul Latief dan Hary Tanoe berurusan serius dengan jaksa dan KPK. Meskipun sudah lama didengungkan bahwa pejabat-pejabat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) telah menyalahgunakan wewenang, namun sesungguhnya mereka tak pernah tersentuh. Jikapun kasusnya muncul ke permukaan, mereka segera dilindungi oleh pejabat di atasnya. Yang sering terjadi, hanyalah sebatas pergantian pejabat dan ini seiring dengan pergantian rezim pemerintahan.Hari ini, Jumat (3/2/2006) beberapa media mengangkat isu kejahatan kerah putih tersebut, menyusul pemeriksaan terhadap Mantan Kepala BPPN Syafruddin Temenggung. Orang yang oleh pemerintahan Megawati dianggap sukses mengurus aset-aset bank bermasalah itu diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta, Kamis (2/2/2006) kemarin. Pemeriksaan Syafruddin terkait dengan penjualan saham dan hak tagih pabrik gula Rajawali III di Gorontalo pada 2003, saat itu Syafruddin masih menjadi Kepala BPPN. Nilai buku aset tersebut adalah Rp 600 miliar, namun BPPN melegonya seharga Rp 84 miliar. Kejaksaan menilai transaksi ini melanggar asas kepatutan dan kewajaran sehingga merugikan negara. "Besar kerugian masih diselediki," kata Kajati Jakarta, Rusdi Taher seperti dikutip Koran Tempo dan Republika.Masih soal kejahatan kerah putih, kasus Bank Mandiri yang mentok pada penuntutan anggota direksi, kemarin mulai dibuka kembali. Hal ini terlihat dari datangnya mantan Menaker yang juga pemilik PT Lativi Media Karya, Abdul Latief di kantor Kejaksaan Agung. Latief diperiksa oleh tim Kejaksaan Agung sehubungan dengan penyalahgunaan miliaran dana kredit dari Bank Mandiri. Sampai sejauh ini pihak Latief merasa tidak bersalah, namun kejaksaan mencium ada perbedaan peruntukan.Kejaksaan Agung sendiri tampak mengalami keraguan dalam mengejar pelaku-pelaku penyalahgunaaan dana kredit Bank Mandiri. Dalam kasus ini, mestinya tidak hanya pihak Bank Mandiri saja yang jadi sasaran, tetapi juga pihak penerima kredit karena merekalah yang justru jelas-jelas mengalihkan alokasi kredit untuk kepentingan lain. Oleh karenanya wajar bila Dirut Bank Mandiri Neloe yang jadi tersangka merasadirinya dikorbankan oleh elit politik. Pemeriksaan terhadap beberapa pihak yang dicurigai, seperti bos Metro TV Surya Paloh ternyata juga tidak berlanjut. Pada suatu titik, Hendarman Supandji selaku Ketua Timtas Tipikor tampak serba salah, karena beberapa aksi pengusutan yang dilakukan terhadap sejumlah pelaku mendapatkan tantangan dari lingkara elit. Saking tidak berdayanya, Hendarman pernah sama sekali tidak mau berbicara kepada wartawan. Kabarnya, itu terjadi setelah Hendarman dipanggil ke Istana dan dimarahi bosnya di sana. Sekali lagi, ini menunjukkan, jika tak ada komitmen politik untuk memberantas korupsi dari para elit, maka sekeras apapun aparat penegak hukum bekerja, hasilnya akan nol. Jika kasus Bank Mandiri menyeret-nyeret nama bos televisi (Abdul Latief dan Surya Paloh) untuk kasus yang berbeda menyeret nama Hary Tanoesoedibyo, pemilik beberapa stasiun televisi, seperti RCTI, Global TV dan Indovision. Seperti dilaporkan Kompas, selaku pemilik PT Drosophila Enterprise, Hary Tanoe disebut sebut terlibat kasus NBC (negtiable certificated deposit) bodong dalam pertukaran saham PT Citra Marga Nusaphalam (CMNP), pengelola beberapa ruas jalan tol Jakarta.Kasus ini sebetulnya sudah lama mengemuka dan sempat diusut aparat, namun tiba-tiba menghilang begitu saja. Seiring dengan menguatnya perseteruan Hary Tanoedengan Tutut dalam perebutan TPI, maka kasus NBC ini mengemuka kembali. Apalagi juga didorong oleh Egi Sujana yang sempat menyebut beberapa orang Istana menerima barang sogokan dari Hary Tanoe. Kasusnya kini sudah ditangani KPK, dan kita berharap tidak lama lagi kasus ini akan jelas: siapa yang harus jadi tersangka.Masih soal kejahatan, kali ini Jawa Pos menonjolkan keberhasilan aparat kepolisian dalam membekuk sindikat narkoba kelas kakap. Aparat Polda Metro Jaya yang melakukan penggerebekan yang dilakukan di beberapa tempat di Jakarta, berhasil menangkap beberapa pelaku utama bersama barang bukti berupa shabu-shabu seberat 202 kilogram. Inilah berita lanjutan kinerja polisi setelah sebelumnya berhasil menggulung sindikat pemroduksi ekstasi di Tangerang, Malang dan Banyuwangi.Media Indonesia, hari ini mengangkat melambungnya harga ecera gula di pasaran. Meskipun Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu mengatakan bahwa pergerakan harga gula masih wajar, namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Harga gula di sebagian besar kota telah bergerak antara 10-20 persen; bahkan di Batam menurut pemantauan Media harga gula sudah berlipat, naik 140 persen. Soal inilah yang harus segera diatasi oleh pemerintah, sebelum harga gula semakin tak bisa dikendalikan, di tengah menurunnnya pendapatan ril masyarakat.Hari ini beberapa media juga menapilkan foto yang menarik: anggota Komisi I DPR Ade Daud Nasution (Partai Bintang Reformasi), wajahnya tampak berdarah karena dipukul oleh orang tak dikenal, sesaat setelah usainya rapat Komisi I yang menyatakan menerima pencalonan Marsekal Djoko Suyanto sebagai Panglima TNI. Kejadian ini agak ironis, anggota dewan dipukul orang tak dikenal di kantor dewan. Mungkin ini kejadian pertama, dan tak perlu terulang lagi. Sudah semestinya, anggota dewan tak perlu surut dalam menyalurkan suara rakyat hanya karena kasus ini. (mar/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads