IMBC Laporkan Hoax soal Mahathir Mohamad ke Bareskrim

Kadek Melda - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 16:52 WIB
Jajaran Indonesia Malaysia Business Council (IMBC) usai melakukan pelaporan ke Bareskrim
Foto: Jajaran Indonesia Malaysia Business Council (IMBC) usai melakukan pelaporan ke Bareskrim
Jakarta -

Indonesia Malaysia Business Council (IMBC) mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Mereka melaporkan sebuah postingan hoax yang membawa-bawa nama Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Bertindak sebagai pelapor adalah seorang staf IMBC bernama Victor Dedy Sukma. Pria yang kini tinggal di Pancoran, Jakarta Selatan ini melaporkan sebuah postingan dengan gambar Mahathir Mohamad beserta tulisan di bawahnya. Tulisan di bawah gambar Mahathir itu seolah-olah disampaikan oleh Mahathir, padahal menurut Victor dipastikan hoax.

Dalam laporan bernomor 451/XII/2020/Bareskrim itu dijelaskan, bahwa tulisan hoax yang seolah-olah disampaikan Mahathir Mohamad itu pada intinya menyinggung mengenai anak-anak Indonesia akan tertinggal dalam penguasan sains karena terlalu banyak menghafal ayat-ayat Alquran dan doa.

Dalam pelaporannya, Victor menyatakan pertama kali melihat postingan hoax tersebut pada 22 November 2020 di satu akun Facebook dan satu akun Twitter. Pihak yang mengupload di dua media sosial itu, adalah pihak yang berbeda. Kemudian pada tanggal 23 November 2020, pelapor mendapati satu akun Facebook lain yang melepas unggahan serupa. Total ada dua akun Facebook dan satu akun Twitter yang dilaporkan.

"Kami mengecek di kantornya Pak Mahathir dan secara tertulis kantor tuan Mahatir mengatakan itu tidak benar itu adalah fitnah. Jadi makanya atas nama IMBC kami menyampaikan ini kepada Bareskrim untuk bisa ditindaklanjuti supaya jangan terjadi kesalah pahaman anatara Indonesia Malaysia," kata Chairman IMBC Tanri Abeng usai melakukan pelaporan di Bareskrim Polri, Rabu (30/12/2020).

Tanri mengatakan, postingan hoax tersebut bisa membuat hubungan kedua negara menjadi renggang. Padahal, lanjut Tanri, kedua negara dalam posisi saling membutuhkan.

"Itulah alasannya kita datang menyampaikan, menegaskan bahwa itu tidak benar," tutur Tanri.

(fjp/fjp)