Cerita Guru Honorer di Perbatasan, Minim Fasilitas hingga Ingin Jadi PNS

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 15:50 WIB
Guru honorer di perbatasan
Foto: Yudistira Imandiar/detikcom
Kapuas Hulu -

Guru honorer di perbatasan berharap bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Mereka yang mengajar di wilayah terdepan Indonesia tak sebatas menuntut kesejahteraan, tapi juga ingin meningkatkan kualitas pendidikan bagi murid-muridnya.

Diungkapkan Farida, guru SDN 10 Nanga Sambus, dirinya setiap hari harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer untuk sampai ke sekolah. Jalanan becek dan licin kerap merintanginya saat hujan turun.

Di masa pandemi saat anak-anak di kota besar dapat beradaptasi dengan pembelajaran online, Farida masih harus datang ke sekolah untuk memberikan tugas, walaupun pertemuan hanya dilakukan dalam waktu singkat. Para guru hanya memberikan tugas lalu memberi sedikit penjelasan ke murid. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing.

"Kesulitan kami tuh di masa pandemi anak anak dituntut online, tapi di sana kekurangan sinyal jadi anak anak pun gak bisa buka aplikasi. Jadi kami masih tetap tatap muka tapi nggak lama. Bagi tugas, dijelaskan dulu beberapa menit baru bawa pulang tugasnya," papar Farida kepada detikcom belum lama ini.

Farida mengaku tak keberatan untuk bertemu para murid setiap hari. Namun, ia kerap terganjal masalah keuangan untuk ongkos bolak balik dari rumah ke sekolah. Ia berharap ada uluran tangan dari pemerintah untuk kesejahteraan guru-guru sepertinya.

"Ya kan bolak balik sekolah itu jauh dari rumah. Ada lah 1 jam perjalanan. Belum lagi ongkosnya itu. Kami ini kan honorer, jadi ya merasa berat juga," keluh Farida.

Selain Farida ada juga Maria Fatima Payung. Ia mengajar bersama Farida berharap adanya perhatian lebih untuk para guru di daerah perbatasan. Ia berharap bisa segera diangkat menjadi PNS agar hidupnya lebih sejahtera.

"Harapan kami sih supaya diangkat jadi PNS dan lebih diperhatikan lah," ungkap Maria.

Maria menguraikan perhatian yang diinginkan bukan hanya soal gaji dan tunjangan, tapi juga pendidikan bagi para guru. Menurutnya, para guru membutuhkan bekal pendidikan yang lebih kaya agar dapat memberikan pengajaran berkualitas bagi para siswa. Ia juga berharap dapat dibantu untuk mendapatkan sertifikasi guru.

"Apalagi kami di daerah pelosok, berharap adanya bantuan dalam bentuk pendidikan dan sertifikasi juga," sebut Maria.

Kedua guru ini merasa senang dengan adanya Bantuan Sosial Upah (BSU) untuk guru honorer dari pemerintah. Bantuan tersebut membuat mereka merasa lebih diperhatikan dan bantuan yang diberikan dapat mengurangi beban ekonomi mereka di masa pandemi.

Di pertengahan bulan Desember, Faridah dan Fatima datang ke Kantor BRI di Putussibau, Kalimantan Barat untuk membuat rekening pencairan dana. BRI memang ditunjuk menjadi salah satu bank penyalur BSU Guru Honorer oleh pemerintah.

"Dengan adanya bantuan ini kami merasa bersyukur. Harapannya biar semakin diperhatikan baik dari bantuan dan segala yang bisa untuk menunjang masa depan," harap Maria.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(prf/ega)