Kisah Pemilik Bengkel di Perbatasan, Jual Sapi demi Hadapi Pandemi

Inkana Putri - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 14:47 WIB
Setiap harinya, Joao bergantung dengan usaha bengkel lasnya, membuka servis las untuk masyarakat di sekitar Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka.
Foto: Inkana Putri/detikcom
Kobalima, Malaka -

Sejak mewabah di Indonesia, pandemi Corona memang tak pandang bulu. Dampak ekonomi akibat wabah tersebut juga telah dirasakan oleh banyak pengusaha besar, termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Joao Daresurecao (43), salah satu pelaku UMKM bengkel las di perbatasan Indonesia-Timor Leste, pun merasakan hal yang serupa. Setiap harinya, Joao bergantung dengan usaha bengkel lasnya, membuka servis las untuk masyarakat di sekitar Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka.

"Saya usaha bengkel las sudah lama. Biasanya kalau las untuk perbaiki kursi atau meja, tergantung pesanan. Biasanya orang-orang sini aja yang pesan, mereka pesan servis teralis, jendela, pintu. Jadi mereka ke sini bawa untuk servis," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Untuk satu kali servis, Joao bisa mendapatkan Rp 150.000-Rp 250.000. Dari penghasilan inilah Joao bertahan hidup untuk membiayai keluarganya.

"Kalau tralis kita biasanya terima jadi tergantung ukurannya. Ada yang Rp 200.000 sampai Rp 250.000. Kalau kursi biasanya Rp 150.000," katanya.

Sejak pandemi, ia mengaku usahanya ikut terdampak bahkan omzetnya menurun drastis. Joao yang biasanya bekerja dari pagi sampai sore bisa mengantongi hingga Rp 4 juta per bulan, kini untuk mendapatkan Rp 1 juta pun rasanya mustahil.

"Selama pandemi sepi, biasanya ramai per bulan bisa dapat sekitar Rp 3-4 juta tergantung pesanan. Pas pandemi, cari sejuta saja susah sekali," ungkapnya.

Himpitan pandemi memang membuat usaha bengkel las Joao terhimpit. Bahkan, Joao sempat menjual hasil ternak ayam dan sapinya. Ia mengaku menjual ternak menjadi jalan terakhir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Kalau ternak itu ternak sendiri, tidak untuk dijual. Kalau kepepet baru dijual. Saya untuk keperluan biasa bantu dengan ternak, saya jual. Biasanya sapi saya jual. Seperti pas mau bayar anak kuliah baru dijual," ungkapnya.

Meskipun pandemi memberikan dampak yang cukup besar bagi ia dan keluarga, Joao tetap merasa bersyukur karena mendapat bantuan Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang disalurkan oleh BRI Unit Kobalima.

"Kalau bantuan yang dari sosial tidak ada, cuma dapat yang BPUM yang Rp 2.400.000 baru sekali cair kemarin dari BRI," katanya.

Dari bantuan tersebut, Joao mengaku dirinya cukup terbantu untuk kehidupan sehari-hari. Mengingat di tengah pandemi ini omzet bengkel lasnya tak bisa diharapkan.

"Ya dalam ini bulan bersyukur bisa terbantu. Bisa bantu-bantu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

Joao berharap pemerintah bisa memberikan bantuan lagi kepada dirinya di masa pandemi ini. Dengan begitu, jika pandemi telah usai dirinya bisa tetap melanjutkan usahanya kembali.

"Harapannya sih semoga bisa dapat bantuan lagi. Biar sesudah COVID, sudah tidak dapat bantuan tidak apa-apa. Karena saya kena dampak sekali, penghasilan itu sedikit," pungkasnya.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.



Simak Video "Kuasai Pasar Malaka, Pengusaha Mebel di Malaka Cuan Puluhan Juta Rupiah"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)