Ketua KPK Cerita Istri dari Menteri Koruptor yang Tabungannya Tak Bertambah

Zunita Putri - detikNews
Senin, 21 Des 2020 18:43 WIB
Firli
Ketua KPK Firli Bahuri (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Ketua KPK Firli Bahuri bercerita tentang perilaku koruptor yang memiliki istri lebih dari satu. Firli menyebut para pelaku korupsi itu kerap mengalirkan uang hasil kejahatannya ke sejumlah perempuan.

Firli menilai perempuan sebenarnya memiliki peran yang cukup besar dalam pemberantasan korupsi. Hal itu disampaikan Firli saat berpidato di acara 'Penandatanganan Kerja Sama Penanganan Pengaduan dalam Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi' di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (21/12/2020), yang dihadiri oleh sejumlah menteri dan perwakilan kementerian lembaga. Awalnya Firli mengingatkan seluruh kementerian agar menghemat anggaran di akhir tahun.

"Bulan Desember ini mudah-mudahan nggak ada cerita bahwa Desember ngabis-ngabisin anggaran, mohon nggak ada cerita itu," kata Firli dalam sambutannya.

Alasan Firli karena Desember memiliki 3 hari penting, yakni 9 Desember Hari Antikorupsi Dunia, 10 Desember peringatan Hari HAM, dan 20 Desember peringatan Hari Ibu. Dia pun menyebut ketiga hari peringatan ini memiliki persamaan dengan pemberantasan korupsi.

"Kenapa Hak Asasi Manusia, Hari Antikorupsi Sedunia, Hari Ibu, itu kerap kaitannya dan memiliki andil besar dalam peradaban bangsa. Andil besar dalam pemberantasan korupsi kalau ibu-ibu bertanya apa yang dihasilkan suami, yang dibawa ke rumah, apakah ini sah-tidak sah, tentu tidak terjadi korupsi," katanya.

Kemudian dia pun berbicara mengenai fenomena istri lebih dari satu. Dia menceritakan koruptor yang memiliki banyak istri dan mengalirkan uang suap itu ke istri kedua bukan istri pertama.

Dia juga mencontohkan salah satu kasus yang dia temui, yakni seorang istri dari menteri yang tertangkap korupsi. Namun di tabungan istrinya itu tidak ditemukan uang jumlah besar.

"Tapi ada juga yang terbalik Pak, fenomena sekarang. Hasil korupsi tidak kembali pada istri, apalagi istri pertama. Tetapi distribusi kepada nomor 2, 3, dan 4, dan lain-lain. Saya pernah Pak, bertanya dengan seorang istri yang suaminya tertangkap kasus korupsi. Dia bilang sama saya, 'Pak Firli, saya sejak dulu Pak, ndak bertambah tabungan saya, walaupun suami saya sudah sampai jabatan menteri'. Saya jadi bertanya berarti uangnya ke mana? Saya tidak mau bertanya lebih lanjut," paparnya.

Menurutnya, di era saat ini peran wanita, khususnya ibu memiliki peran aktif dalam pemberantasan korupsi. Dia berharap seluruh masyarakat sadar akan bahaya korupsi.

"Artinya peran Ibu, perempuan, sangat menentukan pemberantasan korupsi, belum lagi hak asasi manusia. Kalau kita sadar kejahatan korupsi, tindak pidana korupsi, bukan sekedar kejahatan merugikan keuangan negara, merugikan perekonomian negara tetapi sesungguhnya korupsi adalah yang merampas hak-hak asasi manusia. Hak-hak politik sosial tidak bisa terpenuhi karena anggaran dan programnya dikorupsi," sebut Firli.

(zap/aud)