Kawasan Surakarta Terancam Racun Limbah Batubara

Kawasan Surakarta Terancam Racun Limbah Batubara

- detikNews
Rabu, 01 Feb 2006 17:40 WIB
Solo - Kenaikan BBM disikapi kalangan industri dengan beralih menggunakan bahan bakar batubara. Namun pengalihan itu bukan tanpa risiko, sebab limbah batubara lebih berbahaya dibanding limbah minyak. Padahal di Surakarta belum ada perusahaan yang memiliki instalasi pengolahan limbah padat.Semenjak kenaikan BBM industri yang dirasa sangat membebani, sebagian pengusaha di wilayah Surakarta mengambil berbagai langkah penghematan ongkos produksi dan menghindari PHK, di antaranya dengan melakukan program padat karya dan mengalihkan bahan bakar produksi."Biaya yang dapat ditekan bisa mencapai sekitar 40% jika dibanding tetap menggunakan BBM. Dengan menggunakan listrik PLN sekalipun akan tetap jauhlebih murah menggunakan batubara," ujar Pank Supardi, Sekretaris Ekskutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Surakarta, kepada wartawan di Solo, Rabu(1/2/2006).Menurut Pank, sejauh ini terdapat tidak kurang dari 30% perusahaan tekstil besar di kawasan Surakarta telah menggunakan batubara. Sejauh ini, Solo dan sekitarnya dikenal sebagai pusat industri tekstil, baik untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Tidak kurang dari 61 perusahaan tekstilberkapasitas besar beroperasi di daerah tersebut. Namun dampak pengalihan itu adalah bahaya besar yang mengancam lingkungan di kawasan tersebut, yaitu limbah padat sisa pembakaran batubara dan dampak pencemaran udara. Limbah padat batubara termasuk dalam kategori barang berbahaya dan beracun (B-3) yang jauh lebih membahayakan kesehatan dibanding limbah bahan bakar lainnya.Lebih memprihatinkan lagi adalah hingga saat ini belum ada satu pun perusahaan di daerah Surakarta yang memiliki instalasi pengolahan limbah padat. Bahkandari ratusan jumlah seluruh perusahaan pembuang limbah berbahaya di Surakarta, baru sekitar separuh yang memiliki instalasi pengolahan limbah cair."Semenjak menggunakan batubara itu, limbah padat itu dibuang di tanah milik perusahaan masing-masing. Kami memang mengkhawatirkan pencemaran lingkungan sekitar yang akan diakibatkannya dalam jangka panjang. Limbah tersebut sangat berbahaya," ujar Pank.Pabrik Pengolah LimbahUntuk mengatisipasinya, Pank berharap segera didirikan pabrik pengolahan limbah di wilayah Surakarta untuk menekan pencemaran lingkungan di daerah itu yang saat ini juga sudah dalam tingkat memprihatinkan."Pabrik seperti itu baru ada di Cileungsi, Jawa Barat. Sejak dulu banyak perusahaan tekstil raksasa di Surakarta mengirim limbah obat kesana. Tapi rupanya untuk pengiriman limbah padat batubara ini, mereka juga cukup kesulitan untuk melakukan karena pukulan berat dalam biaya produksi sebagai dampak kenaikan BBM tahun lalu," ujar Pank."Ada juga penyuplai batubara ke perusahaan-perusahaan yang menawarkan harga lebih tinggi tiap kilogramnya dengan konsesi bersedia mengambil limbahnya. Namun sebagian besar perusahaan disini lebih memilih harga lebih murah dengan risiko mengamankan sendiri limbah berbahaya itu," lanjut Pank.Karenanya Pank meminta pihak-pihak terkait, terutama Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan pemerintahan daerah setempat segera membicarakannya. Apalagi Pemkab Sukoharjo, kata dia, telah menawarkan tanah untuk lokasi mendirikan pabrik tersebut namun belum ada investor yang berinisiatif mengambil peluang itu. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads