Nelayan di Malaka Tangkap Ikan Pakai Tonda, Apa Itu?

Inkana Putri - detikNews
Minggu, 20 Des 2020 15:51 WIB
Jika dilihat sekilas, tonda sebenarnya hampir sama dengan alat pancing biasa karena juga menggunakan tali, mata pancing dan umpan
Foto: Grandyos Zafna/detikfoto
Malaka -

Ada banyak cara nelayan mendapatkan ikan. Mulai dari menggunakan jaring, jorang, tombak, dan lainnya. Bahkan, saat ini tak jarang para nelayan lebih memilih menggunakan cara modern demi mendapat ikan yang lebih banyak.

Namun, nelayan di Malaka nampaknya masih menerapkan cara tradisional dalam memancing. Seperti halnya salah satu nelayan di Malaka, Fransiscus Seran Fahik (62). Beda dengan kebanyakan nelayan, Frans masih menggunakan alat pancing tradisional bernama tonda.

Jika dilihat sekilas, tonda sebenarnya hampir sama dengan alat pancing biasa karena juga menggunakan tali, mata pancing dan umpan. Bedanya, tonda tidak menggunakan jorang dan umumnya menggunakan umpan buatan agar tak gampang putus. Umpan buatan yang digunakan pun biasanya menggunakan bulu ayam yang diberi warna terang, yang tujuannya untuk menarik perhatian ikan.

Untuk memancing dengan tonda, Frans menjelaskan tonda diletakan di belakang kapal di dekat mesin. Nantinya, gulungan tali tonda harus dibuka dan dilepas sampai habis agar turun ke dasar laut dan dibiarkan beberapa jam untuk menunggu ikan terpancing.

Jika dilihat sekilas, tonda sebenarnya hampir sama dengan alat pancing biasa karena juga menggunakan tali, mata pancing dan umpan Foto: Grandyos Zafna/detikfoto

Saat melepas tali tonda, kapal biasanya akan sambil bergerak agar mata pancing menyebar sehingga ikan yang didapat pun bisa banyak. Jika sedang musimnya, Frans mengatakan hanya perlu menunggu setidaknya 2 jam untuk bisa dapat 500-600 ikan.

"Ini kita pakai mesin, nanti kita pasan tonda di sini (belakang kapal). Ini tonda kita buat turun sampai dasar (laut). Jadi ini caranya harus dibuka dulu (gulungan tali), kita buka sampai abis. Terus nanti kita kasih naik (talinya) jika sudah selesai. Kalau musim tonda itu 500-600 paling lambat 2 jam," katanya kepada detikcom baru-baru ini.

Adapun satu tonda biasanyanya memiliki jumlah mata pancing yang berbeda sesuai dengan panjang tali pancing. Untuk talinya sendiri, nelayan tonda biasanya menggunakan jenis tali nylon. Uniknya, jika pada satu tonda terdapat 50 mata pancing maka ikan yang didapat harus 50 ekor.

"Ini dapatnya tergantung jumlah mata pancing. Ini misalnya ada 50 (mata pancing), harus 50 ekor. Sesuai mata pancing. Kalau kita pasang sampai 100 (mata pancing), ikan juga harus dapat 100 ekor," katanya.

Sama dengan cara mancing lainnya, mancing dengan tonda juga perlu keahlian khusus. Pertama, nelayan perlu mengetahui kapan waktu terbaik untuk mancing. Biasanya, Frans baru melaut saat angin darat sudah muncul. Namun untuk memancing tonda, ia biasanya melakukan pada siang hari agar mata pancing lebih jelas terlihat oleh ikan.

"Kalau kita biasanya pasang siang. Tapi biasanya kalau malam sudah ada angin darat, sudah bisa masuk," ungkapnya.

Kedua, mancing dengan tonda juga perlu tahu lokasi mana yang berpotensi ada banyak ikan. Frans menyebut semakin jauh lokasi akan semakin bagus pula ikannya.

"Pokoknya tergantung kita saja mau masuk berapa kilo, pasti ada ikan. Tapi kalau ikan-ikan bagus itu, kita harus masuk lebih dalam. Jadi, ikan yang kelas-kelas harus masuk ke dalam. Kalau di pinggir saja, saingan banyak," paparnya.

Memancing dengan tonda memang masih banyak digeluti oleh nelayan di Malaka. Mengingat fasilitas memancing di sana pun masih serba terbatas. Frans mengatakan alat pancing tonda hanya bisa memancing ikan tertentu saja seperti kombong (kembung) dan tongkol, sedangkan untuk pancing ikan besar biasanya mata pancingnya akan terputus.

Jika dilihat sekilas, tonda sebenarnya hampir sama dengan alat pancing biasa karena juga menggunakan tali, mata pancing dan umpanNelayan di Malaka Tangkap Ikan Pakai Tonda, Apa Itu? Foto: Grandyos Zafna/detikfoto

Terbatasnya fasilitas memancing membuat Frans berharap adanya bantuan dari pemerintah. Apalagi di Malaka para nelayan masih menggunakan kapal-kapal kecil untuk memancing. Pasalnya, untuk menangkap ikan besar, para nelayan harus bekerja sama menggunakan 3-4 perahu.

"Jadi misalnya untuk ikan-ikan besar harus kapal besar, tapi kalau kita pakai perahu kecil begini harus setengah mati. Pakai 3-4 perahu baru bisa," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu para nelayan di Malaka dengan memfasilitasi kapal yang lebih besar. Dengan begitu, para nelayan bisa menangkap ikan lebih banyak dan lebih besar lagi.

"Ini kalau kami namanya nelayan butuh jaring, mata pancing, mesin, dan perahu johnson. Kita butuh perahu lebih besar biar bisa tangkap ikan lebih besar dan banyak," katanya.

Namun di tengah terbatasnya fasilitas, Frans bersyukur saat ini dirinya masih bisa mengembangkan usahanya melalui pinjaman KUR Super Mikro dari BRI sebesar Rp 5 juta rupiah. Ia menyebut pinjaman tersebut bisa digunakan untuk keperluan membeli alat memancing.

"Baru-baru ini kita ada pinjam modal Rp 5 juta dari BRI. Itu kita pakai beli pukat, mata pancing, beli banyak untuk keperluan mancing. Itu masih saya baru pakai Rp 2 juta, nanti yang Rp 3 juta saya buat pakai beli alat lagi nanti," ungkapnya.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(ega/ega)