MPR: Butuh Lompatan Besar Perjuangkan Hak-hak Perempuan agar Setara

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 17:15 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk bergerak bersama, melahirkan terobosan sesuai konteks dan peluang yang ada. Hal ini tidak lain untuk menjawab tantangan, baik di masa kini maupun di masa mendatang.

"Kita membutuhkan langkah besar untuk sebuah lompatan besar demi memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara. Bercermin dari sejarah, perempuan telah melakukan langkah besar melalui ide dan kerja nyata," ujar Lestari dalam keterangannya, Jumat (18/12/2020).

Menurutnya, peran nyata kalangan perempuan di masa pandemi COVID-19 menjadi hal yang membanggakan. Rerie, sapaan akrab Lestari, lantas menyebutkan setidaknya ada tujuh sosok kepala negara perempuan yang dipuji karena sukses mengelola pandemi virus Corona dengan baik.

Ketujuh perempuan itu ialah Mette Frederiksen (Denmark), Kartin Jakobsdottir (Islandia) Sanna Marin (Finlandia), Angela Merkel (Jerman), Jacinda Ardern (New Zealand), Erna Solberf (Norwegia) dan Tsai Ing-wen (Taiwan).

Walaupun semua negara di dunia masih berjuang menghadapi wabah virus Corona, lanjutnya, ketujuh pemimpin perempuan tersebut mampu menekan angka kematian akibat COVID-19 di negara masing-masing

"Kata dan tindakan para pemimpin perempuan itu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya," ujarnya.

Menurut Rerie, sejatinya perempuan Indonesia juga bisa membawa perubahan. Terlebih dengan melihat beragam peran perempuan di Indonesia dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman. Di antaranya Ratu Shima di Kerajaan Kalingga yang mengagumkan dengan pemerintahan terbuka, mengadopsi sistem pertanian dan menjadikan Kalingga bersinar emas penuh kejayaan.

Selanjutnya ada Ratu Kalinyamat (Retna Kencana) dari Jepara yang berhasil membangun armada laut terkuat yang mampu melawan kolonialisme Portugis. Ada pula Keumalahayati, perempuan dari Kesultanan Aceh yang mendapat gelar Laksamana saat memimpin 2000 pasukan Inong Balee (janda para pahlawan) dan membunuh Cornelis de Houtman.

"Perempuan Indonesia di setiap masa menorehkan sejarah, leadership legacy (warisan kepemimpinan) yang tak hanya mengagumi tetapi juga menginspirasi," ujar Rerie.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi perempuan-perempuan Indonesia untuk bergerak, menjadi pemimpin dan melakukan perubahan.

(akn/ega)