Bawa Novum, Keluarga Terpidana Mati Poso Datangi Polri
Rabu, 01 Feb 2006 12:46 WIB
Jakarta - Keluarga tiga terpidana mati kasus Poso tahun 2000 mendatangi Mabes Polri dengan membawa novum alias bukti baru. Mereka melaporkan 16 nama baru yang diduga kuat menjadi otak dari kerusuhan Poso jilid III.Mereka adalah Robert Tibo, putra kandung Fabianus Tibo; Anastasia, istri Marinus Riwu; dan Adam Ata, ayah angkat Dominggus da Silva.Mereka didampingi enam pengacaranya dari Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, dan tiba di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, pukul 11.20 WIB, Rabu (1/2/2006)."Kehadiran mereka kami dampingi untuk mengajukan laporan sehubungan adanya 16 tersangka baru. Ini berdasarkan banyaknya kesaksian," ujar Koordinator Padma Indonesia Roy Rening.Menurutnya, ada sekitar 20-30 saksi yang akan menjadi bukti baru terhadap 16 nama baru tersebut, dan juga kesaksian yang mengatakan ketiga tersangka tidak berada di tempat saat kejadian."Bagi kami, ini menjadi novum yang akan kita bagi dalam upaya hukum lainnya agar eksekusi mati tidak dilakukan secepatnya," ungkapnya.Di antara 16 nama baru tersebut, Roy menyebutkan dua nama, yaitu Janis Simangunsong dan Paulus Tungkanan. "Dan Tibo merupakan saksi kunci atas 16 orang tersebut," ucapnya.Sedang ayah angkat Dominggus, Adam Ata, mengatakan, pada saat kejadian, ketiga terpidana mati Poso itu tidak berada di tempat kejadian. "Kejadian di Poso jauh dari rumah kami. Itu sekitar 250 kilometer dari rumah kami," ucapnya.Berbarengan dengan kedatangan mereka, sekitar 10 pendukung yang mengaku berasal dari Forum Pembela Tibo Cs, berunjuk rasa di depan kantor Mabes Polri. Mereka berorasi meminta aktor utama kerusuhan Poso ditangkap.Mereka juga membawa dua spanduk bertuliskan, "Tunda eksekusi Tibo cs" dan "Tangkap aktor utama kerusuhan Poso".Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva dianggap sebagai dalang dan provokasi kerusuhan Poso tahun 2000, yang menimbulkan kerusuhan agama meruncing. Direncanakan tahun 2006 ini Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah akan segera mengeksekusi mati ketiganya.
(ndr/)











































