Gandeng PPATK, KPK Telusuri Transaksi Keuangan di Kasus Bansos Corona

ADVERTISEMENT

Gandeng PPATK, KPK Telusuri Transaksi Keuangan di Kasus Bansos Corona

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 17 Des 2020 21:12 WIB
Usai ditetapkan sebagai tersangka kasus suap bansos Corona Mensos Juliari Batubara tinggalkan gedung KPK. Ia akan ditahan di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur
Juliari Batubara saat ditahan KPK (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

KPK selangkah lebih maju berkaitan dengan kasus dugaan suap dalam pengadaan bantuan sosial (bansos) untuk penanganan COVID-19 yang menjerat Menteri Sosial (Mensos) nonaktif Juliari P Batubara. Langkah KPK itu dengan cara menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

"Iya, kami memastikan penanganan perkara oleh KPK ini akan kerja sama dengan pihak perbankan maupun PPATK dalam hal penelusuran aliran maupun transaksi keuangan," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (17/12/2020).

Namun Ali mengaku belum dapat memberikan informasi lebih jauh terkait data penelusuran dana oleh PPATK itu. Sebab, kata Ali, hal itu sudah menjadi strategi penyidikan setiap perkara.

"Mengenai data dan informasi yang diberikan PPATK tentu tidak bisa kami sampaikan, karena itu bagian dari strategi penyidikan penyelesaian perkara ini," ujar Ali.

Seperti diketahui, KPK menjerat Juliari Batubara sebagai tersangka dalam kasus korupsi bansos Corona. Dia dijerat bersama empat orang lainnya, yaitu Matheus Joko Santoso, Adi Wahyono, Ardian IM, dan Harry Sidabuke.

Dua nama awal merupakan pejabat pembuat komitmen atau PPK di Kemensos. Sedangkan dua nama selanjutnya adalah pihak swasta sebagai vendor dari pengadaan bansos.

KPK menduga Juliari menerima jatah Rp 10 ribu dari setiap paket sembako senilai Rp 300 ribu per paket. Total setidaknya KPK menduga Juliari Batubara sudah menerima Rp 8,2 miliar dan Rp 8,8 miliar.

"Pada pelaksanaan paket bansos sembako periode pertama, diduga diterima fee kurang-lebih sebesar Rp 12 miliar yang pembagiannya diberikan secara tunai oleh MJS (Matheus Joko Santoso) kepada JPB (Juliari Peter Batubara) melalui AW (Adi Wahyono) dengan nilai sekitar Rp 8,2 miliar," ucap Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers sebelumnya.

"Untuk periode kedua pelaksanaan paket bansos sembako, terkumpul uang fee dari bulan Oktober 2020 sampai Desember 2020 sejumlah sekitar Rp 8,8 miliar, yang juga diduga akan dipergunakan untuk keperluan JPB," imbuh Firli.

(fas/dhn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT