Gatot Anggap Sebutan 'Kadrun-Kampret' Lecehkan Tuhan, MUI Bicara Akhlak

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 17 Des 2020 13:53 WIB
Marsudi Syuhud
Marsudi Syuhud (Dikhy Sasra/detikcom)
Jakarta -

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo meminta masyarakat menghentikan sebutan 'kampret' dan 'kadrun' karena dinilai melecehkan Tuhan Yang Maha Esa. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan agama mengajarkan agar tidak menjelekkan orang lain.

"Julukan-julukan itu memang banyak, tapi julukan yang baik juga banyak. Ketika memanggil orang dengan julukan yang baik, itu adalah baik. Sekarang tinggal mengartikan memanggil orang dengan julukan yang jelek-jelek. Memang kita itu ya dalam beragama itu tidak boleh menjelek-jelekkan orang, maka jangan berbuat jelek terhadap orang. Itu termasuk dari akhlak," kata Ketua MUI Marsudi Syuhud kepada wartawan, Kamis (17/12/2020).

Marsudi mengatakan panggilan kepada orang lain itu lebih mengarah pada akhlak. Dia kemudian mencontohkan dengan seorang yang pincang.

"Jadi, ketika akhlak itu, betapa pun secara fikih, fikih itu benar. Fikih itu masih kasar, hitam-putih, salah-benar, tinggal tergantung faktanya. Kalau moral akhlak itu betapa pun benar, itu tidak selalu baik," katanya.

"Contohnya, faktanya orang itu pincang, fikihnya pincang, wong faktanya pincang, hukumnya juga pincang. Tapi ketika dipanggil 'hei pincang', itu kira-kira marah nggak? Padahal di sendiri faktanya pincang. Makanya Islam itu tidak sekadar hanya akidah, tidak sekadar hanya fikih, tapi juga akhlak, ini termasuk dari bagian akhlak," sambungnya.

Menurut Marsudi, semua ajaran agama seperti akhlak berasal dari Tuhan, sehingga dia meminta agar mengikuti ajaran itu.

"Semua tauhid, terus fikih, akhlak itu ajaran Tuhan, semua itu ajaran Tuhan. Gitu aja. Maka, ketika tidak mau dijahatin, dipanggil jelek juga nggak mau, kan? Ya jangan menjahati dan jangan menjelekkan. Makanya kita harus berakhlak," kata dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2