Kalla Kesal Harus Kerja di Hari Kejepit Nasional
Senin, 30 Jan 2006 16:17 WIB
Jakarta -
"Hari kejepit nasional" alias "harpitnas" tidak hanya membuat para pekerja lesu darah, Wapres Jusuf Kalla pun demikian. Tidak habis-habisnya dia mengeluhkan hal itu.Harpitnas, menurut Kalla, harusnya dijadikan hari libur seperti yang pernah diterapkannya saat ia menjabat sebagai Menko Kesra dalam pemerintahan Megawati Soekarnoputri."Hari kejepit itu mau bekerja nanggung karena biasa libur. Mau libur terasa berdosa karena orang bekerja," ujar Kalla di hadapan peserta seminar "Advance Leadership Programme" di Hotel Hilton, Jakarta, Senin (30/1/2006).Harusnya, lanjut dia, Menko Kesra Aburizal Bakrie alias Ical menerapkan kembali harpitnas sebagai hari libur. "Saya sudah minta Ical untuk mengubah kembali, tapi rupanya belum berubah-ubah," keluhnya.Mengenai penilaian masyarakat yang menganggap libur atau berwisata menyebabkan orang menjadi malas, dia tidak sependapat. "Justru hari libur banyak sopir, pilot dan tukang pijat di Bali yang harus bekerja keras," katanya.Dia lalu bercerita, saat masih menjabat sebagai Menko Kesra, tujuan diliburkannya harpitnas untuk menggairahkan pariwisata di Bali yang terkena imbas bom. "Saya bilang di Bali, pantai dan hotel tetap ada. Mata orang Bali juga tetap indah, yang hilang cuma rasa aman," katanya.Menurut Kalla, untuk berlibur ke Bali tidak cukup satu hari. Sedikitnya dibutuhkan waktu tiga hari. Karena itu dibuatkan libur selama tiga hari. Jadi di dalam kalender ada tiga hari libur dalam waktu seminggu.Dalam proses perubahan harpitnas menjadi hari libur, ia mengundang beberapa pemuka agama, dan sebagian besar setuju.
(umi/)










































