Kisah Pedih Pengungsi Meulaboh Lahirkan Anak
Senin, 30 Jan 2006 14:21 WIB
Banda Aceh - Kisah tidak terlupakan dialami Ernawati ND (25). Tiga hari menahan rasa sakit karena bayinya tak juga mau lahir meski dia sudah mengalami kontraksi yang sangat hebat. Ernawati ND kemudian diputuskan untuk menjalani operasi caesar. Tapi sayangnya, tak satupun dokter bedah ada di rumah sakit di Meulaboh, Aceh Barat, meski Ernawati ND hampir menunggu di hari yang ke empat. Ernawati ND dan suaminya T. Anwar (45) bingung bukan main. Pasangan yang hidup di tenda pengungsian Budha Tzu Chi Desa Reusak Kecamatan Samatiga, Meulaboh, ini tak tahu harus bagaimana. Untungnya, selama hamil, perempuan yang kehilangan seluruh keluarganya akibat tsunami ini rajin memeriksakan diri ke klinik Yayasan Bumi Sehat , Bali, yang ada di Samatiga. Robin Lim, pimpinan klinik yang dibuka paska tsunami- kemudian menghubungi perwakilan PBB yang ada di Meulaboh. Robin Lim yang juga bidan ini mengusahakan agar pasangan ini diterbangkan ke Banda Aceh, agar Ernawati ND segera menjalani operasi. Tak tanggung, sebuah pesawat emergency only milik PBB diterbangkan dari Medan untuk menjemput Ernawati ND dan menerbangkannya ke Banda Aceh. Setelah menjalani operasi sekitar 1 jam, seorang bayi laki-laki dengan berat 3,6 kg dan panjang 46 cm akhirnya bisa diselamatkan."Jika terlambat satu hari saja, mungkin bayi tidak selamat. Di rumah sakit Meulaboh, Cut Nyak Dhien, ada alat operasi tapi dokter surgeon (ahli bedah, red) tidak ada. Katanya semua ke Jakarta, untuk ikut seminar. Tapi syukurlah, dokter dan bidan di rumah sakit di Banda Aceh ini cukup baik dan profesional," ujar Robin Lim pada detikcom, Senin (30/1/2006). Tapi cerita operasi perempuan asal Desa Suak Pante Breueh, Kecamatan Samatiga ini juga tak berjalan mulus. Sesampai di RSU Zainal Abidin, Banda Aceh, suaminya ditemani Robin Lim harus membeli sendiri sarung tangan untuk operasi dan peralatan jahit untuk Ernawati paska operasi. Karena persediaan barang-barang tersebut sedang habis. "Untung ada Ibu Robin, kalau tidak, saya tidak tahu harus bagaimana. Tapi saya mau segera pulang saja, bawa isteri ke tenda, karena takut nggak punya cukup uang buat bayar obat dan rumah sakit, meski ditolong Ibu Robin," kata T. Anwar pada detikcom di sela-sela dia membantu memegangi bayinya untuk disusukan isterinya sebelum dibawa kembali ke ruang ICU anak. Menurut Anwar, dia tidak tahu apakah biaya rumah sakit dan operasi gratis karena dirinya adalah pengungsi. "Saya ada bawa fotokopi keterangan saya ini pengungsi, tapi tidak tahu apa gratis, apa bayar, tidak ada ngomong soal itu sama dokter. Ibu Robin juga tidak tahu, makanya saya mau pulang saja. Mungkin kami pulang nanti naik L300. Apalagi, obat kan harus beli sendiri, sudah habis Rp 1 juta untuk beli obat," ujarnya. Sebenarnya sangat berat Anwar harus memboyong isterinya segera ke Samatiga naik angkutan umum dengan waktu tempuh sekitar 10 jam dengan kondisi jalan yang tidak mulus. Apalagi menghadapi kenyataan kalau kemudian bayi mereka yang diberi nama T. Iskandar itu hidup di tenda. "Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah takdir kami," katanya. Dikisahkan Anwar, pertemuannya dengan isterinya itu terbilang unik. Bencana tsunami yang membuat keduanya bertemu. Ketika gelombang tsunami menerjang desa T. Anwar dan Ernawati, keduanya terseret ke sebuah hutan. Bersama mereka ada dua pria lainnya. Meski tak saling kenal, mereka saling menolong, apalagi tiga hari tiga malam mereka terperangkap dalam hutan tersebut sampai akhirnya bisa menemukan kembali jalan pulang. Anwar kembali ke desanya, Padang Sirait, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, yang sudah menjadi lautan. Isteri dan tiga anaknya yang menurut cerita orang-orang kampungnya selamat tapi kembali ke Jawa. Sementara, Ernawati ND kehilangan ayah, ibu, kakak, abang, adik dan saudara-saudara lainnya. "Kami satu rumah 13 orang, hanya saya yang selamat," ujarnya lirih. Karena sama-sama merasa tidak punya siapapun lagi, mereka sepakat untuk menikah pada bulan Januari, sebulan setelah kejadian tsunami. "Kami sempat tinggal di barak Alue Penyaring, kemudian direlokasi ke tenda sekarang ini," terangnya. Komplek tenda Budha Tzu Chi ini menyediakan tenda yang hampir mirip bentuk rumah, berukuran sekitar 4x4 meter. Sebelum tsunami, pria asal Blang Pidie ini bekerja sebagai supir truk. Sekarang, untuk menghidupi keluarganya, Anwar berjualan cabai, bawang dan sayuran lainnya di kaki lima di Meulaboh. "Doakan semoga anak ini berguna nantinya. Karena susah sekali untuk melahirkannya. Apalagi, pesawat khusus didatangkan untuk dia," pinta Ernawati yang masih belum tahu kapan bisa kembali ke Samatiga.
(jon/)











































