Nyoblos, Cawalkot Makassar Irman Yasin Limpo Soroti Prokes Cuma Seremonial

Reinhard Soplantila - detikNews
Rabu, 09 Des 2020 10:59 WIB
Cawalkot Makassar Irman Yasin Limpo (None) saat mencoblos di TPS (Reinhard-detikcom).
Cawalkot Makassar Irman Yasin Limpo (None) saat mencoblos di TPS. (Reinhard/detikcom)
Makassar -

Calon Wali Kota Makassar nomor urut 4 Irman Yasin Limpo (None) melakukan pencoblosan Pilwalkot Makassar 2020. None menyoroti pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) di TPS yang menurutnya hanya seremonial untuk menggugurkan kewajiban.

Pantauan detikcom, Rabu (9/12/2020) di TPS 008, Jalan Bontocinde, Kelurahan Buakana, Kecamatan Rappocini, Makassar, None dengan didampingi timnya tiba di TPS sekitar pukul 11.15 Wita. Dia lalu melakukan pencoblosan di bilik suara usai mengikuti pemeriksaan protokol kesehatan.

"Sebagai sebuah standar yang seremonial, itu cukup, sebagai seremonial standar protokol kesehatan. Tapi kalau berdasarkan standar yang seharusnya berjaga supaya masyarakat tidak terdampak pada situasi pandemi yang sangat tinggi saat ini, hari ini, itu lebih ketat lagi harusnya," kata None usai melakukan pencoblosan.

Cawalkot Makassar Irman Yasin Limpo (None) saat mencoblos di TPS (Reinhard-detikcom).Cawalkot Makassar Irman Yasin Limpo (None) saat mencoblos di TPS. (Reinhard/detikcom)

Meski menurutnya pelaksanaan prokes di TPS tempat mencoblos hanya seremonial, None menilai pelaksanaan prokes tersebut sudah cukup untuk mencegah penularan COVID.

"Kalau di sini ketat, lumayanlah. Pokoknya kalau standar protokol kesehatan secara seremonial ya, bahwa itu hanya menggugurkan kewajiban saya sepakat bahwa ada standar protokol. Tapi kalau standar WHO, apalah, masih jauhlah," tegasnya.

"Yang kurang adalah edukasi awal, nanti kita sudah berjarak dekat baru kita dikasih tahu, jadi duluan bahayanya dibanding preventifnya. Harusnya preventif dulu," lanjutnya.

Terkait Pilwalkot Makassar 2020, None yakin dirinya bersama wakilnya, Zunnung Nurdin Halid, akan mendapatkan hasil terbaik. Dia tidak begitu memikirkan hasil survei sejumlah lembaga survei yang menempatkannya di posisi bawah dari calon lain.

"Survei itu memotret masa lalu, yang penting itu bagi survei adalah bagaimana membaca hasil masa lalu untuk diterapkan di masa yang akan datang, di hari-hari berikutnya. Kita optimis untuk menang walaupun dalam selisih-selisih yang tipis," pungkasnya.

(nvl/idh)