Mbah Tarjo Tersesat di Atap Hotel Bintang Lima
Senin, 30 Jan 2006 05:02 WIB
Madinah - Mbah Tarjo sudah berusia 56 tahun. Wajar, bila kakek ini lupa jalan menuju kamar penginapannya di Hotel Taiba Residential Suites di Kota Suci Madinah. Bahkan, dia akhirnya tersesat di atap hotel berlantai 16 ini. Pengalaman buruk ini tidak akan dilupakannya.Mbah Tarjo bernama lengkap Sutarjo bin Dalijo. Dia berasal dari Kampung Pasar Lembu, Aerojoman, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut). Dia berangkat haji tergabung dalam kloter 22 MES (Medan). Saat di Madinah, jamaah kloter ini mendapat penginapan di Taiba Residential Suites, hotel bintang lima yang berjarak 3 meter dari halaman Masjid Nabawi. Kasus yang membuat pusing kepala Mbah Tarjo dialaminya pada Jumat (27/1/2006) lalu. Mbah Tarjo mengisahkan kisah ini pada Jumat malam, setelah dirinya berhasil dibebaskan dari kantor pos polisi dan dibawa ke Kantor Daker Madinah. Baju putihnya tampak lusuh, terlihat noda kotor. Mbah Tarjo bercerita, saat itu dia baru saja menunaikan salat Jumat. Begitu tiba di hotel Taiba, Tarjo mendapat lift dipadati oleh jamaah. Dia kesulitan masuk ke dalam lift. Karena menunggu masuk lift lama, Tarjo pun akhirnya nekat menuju kamarnya melalui tangga darurat. Padahal, dia mengaku menginap di sebuah kamar di lantai 11. Dengan mantapnya, dia menjelajahi tangga itu. Namun, karena tangga darurat, dia tidak menemukan petunjuk apa pun menuju lantai 11 itu. Sampai akhirnya, dia sampai ke atap hotel. "Ngos-ngosan juga saya pak," kata Tarjo. Di atap hotel yang cukup luas itu, dia pun berjalan-jalan. Dan akhirnya, dia tidak menemukan tangga darurat itu lagi. Mbah Tarjo tersesat! Mau turun kembali lewat tangga tidak bisa, sementara tidak ada petunjuk jalan lain. Yang ditemukan hanyalah pembatas-pembatas dinding yang memusingkan. Dia cukup shock. "Saya di atap hampir setengah jam," ungkap dia. Sampai akhirnya, di tengah rasa shock-nya itu, Mbah Tarjo punya akal. Dia mendatangi pembatas dinding paling luar. Dari pembatas dinding itu, dia bisa melihat kerumunan banyak orang di halaman hotel di lantai dasar. Dia pun berteriak minta tolong. Namun, orang-orang di lantai dasar itu tidak mendengarnya. Lantas, dia pun menjatuhkan sajadah warna hijau miliknya. "Baju saya kotor ini, karena saya merayap di pembatas dinding itu," kata Tarjo. Dari lemparan sajadah itu, orang-orang di bawah melihat Mbah Tarjo melambai-lambaikan tangan. Lantas, orang-orang yang melihat Mbah Tarjo pun melaporkannya kepada petugas hotel. Namun, laporan orang-orang itu kepada petugas hotel salah tafsir. Mereka melaporkan ada orang yang mencoba bunuh diri dari atap hotel. Lantas, petugas hotel dengan membawa dua orang polisi naik ke atap hotel. Mereka pun dengan mudah menemukan Mbah Tarjo. Tapi, saat itu Mbah Tarjo langsung ditangkap, karena diduga akan melakukan bunuh diri. "Saya minta tolong kok malah ditangkap polisi," ungkap Mbah Tarjo heran.Saat digelandang polisi, Mbah Tarjo sempat meminta kepada petugas hotel untuk mampir ke kamarnya untuk mengambil tas tentengan. Namun, polisi dan petugas hotel tidak mengizinkan. Bisa jadi, karena mereka tidak paham dengan permintaan Mbah Tarjo.Dari hotel, Mbah Tarjo pun dibawa ke Pos Polisi di Markaziah. Di sana, polisi membuat berita acara pemeriksaan (BAP), yang intinya Mbah Tarjo dipermasalahkan, karena akan bunuh diri. Namun, polisi kesulitan menginterogasi Mbah Tarjo. "Polisi pakai bahasa Arab, sedangkan saya gak bisa. Ya sudah saya diam saja," kata Tarjo. Saat itu, polisi sempat melihat gelang haji yang dipakai Mbah Tarjo. Dari gelang itu, sebenarnya polisi bisa mengetahui bahwa Mbah Tarjo adalah jamaah haji asal Indonesia. Namun, entah mengapa polisi tidak menghubungi Kantor Daker Madinah untuk menginformasikan hal ini. Sampai akhirnya, Jumat malam, ketua kloter 22 MES melaporkan kepada Kantor Daker Madinah tentang hilangnya Mbah Tarjo. Lantas, petugas haji Daker Madinah menelusuri di mana keberadaan Mbah Tarjo. Dan ternyata, Mbah Tarjo ditemukan di pos polisi Markaziah. Petugas haji, Mahrus Misbah Siraj, kemudian menuju ke pos polisi Markaziah untuk membawa pulang Mbah Tarjo. Namun, untuk membebaskan Mbah Tarjo bukanlah perkara mudah. Mahrus diminta fotokopi paspor Mbah Tarjo. Polisi meminta fotokopi identitas itu karena Mbah Tarjo sudah di-BAP. "Padahal, saya membawa identitas sebagai petugas haji," kata dia. Akhirnya, setelah bernegosiasi cukup lama, polisi pun menyerah. Mahrus bisa membebaskan Mbah Tarjo setelah dirinya meninggalkan fotokopi identitas petugas hajinya itu. Lantas, Mahrus membawa Mbah Tarjo ke Kantor Daker Madinah agar pikirannya tenang. Di Kantor Madinah, Mbah Tarjo disajikan makanan dan memakan makanan itu dengan lahap. "Selama saya di kantor polisi, saya hanya dikasih air, tidak dikasih makan," ungkap Mbah Tarjo. Jual Tanah untuk Haji Kisah Mbah Tarjo berangkat ke haji juga menarik. Dia memutuskan berangkat ke Tanah Suci setelah menjual tanahnya seluas 2 hektar. "Tapi, tanah seluas itu di kampung ya murah saja, hanya Rp 30 juta," ungkap dia. Karena itulah, dia berangkat haji sendirian saja, tanpa sang istri. Karena, uang hasil penjualan tanah itu hanya cukup untuk seorang saja. Setelah menjual tanah 2 hektar, kini Mbah Tarjo masih memiliki sisa tanah 4 hektar. Dari tanah 4 hektar inilah, Mbah Tarjo masih bisa mencar nafkah sehari-hari.
(asy/)











































