IAS Berang Danny Pomanto Kaitkan JK dengan Penangkapan Edhy Prabowo

Angga Laraspati - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 21:33 WIB
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (3/12/2020). Edhy Prabowo diperiksa penyidik KPK dalam perkara dugaan penerimaan suap perizinan tambak, usaha dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Wali Kota Makassar 2004-2014 Ilham Arief Sirajuddin ikut bereaksi terhadap rekaman suara dari Danny Pomanto yang menyebut mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla sebagai dalang di balik penangkapan Menteri KKP Edhie Prabowo oleh KPK. Tokoh politik ini menuding Danny sebagai politisi yang tidak bisa menghargai orang tua.

"Adanya rekaman itu sangat saya sesalkan. JK itu orang tua warga Sulsel yang saat ini lebih banyak mengabdikan diri untuk kegiatan sosial. Tega-teganya difitnah dengan tudingan yang tidak berdasar," ujar Ilham dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/12/2020).

Ilham mengaku, seharusnya cukup dirinya saja yang mengalami perbuatan zalim dari DP dalam bentuk pengingkaran segala bantuan dan sokongan di masa lalu.

"Kalau DP juga merasa JK tidak punya andil bagi diri dan karier politiknya sehingga tega memfitnah demikian kejam, seharusnya DP paham bahwa JK banyak berjasa kepada Sulsel. Tidak cukupkah saya saja? Kenapa orang yang saya dan warga Sulsel anggap sebagai orang tua ini juga difitnah begini? Apa masalahnya sampai begitu benci sama beliau (JK)," ungkapnya.

Ilham menilai, yang terbongkar belakangan ini soal kebiasaan DP memfitnah dan bercerita jelek di belakang orang, membuktikan DP memang tidak paham karakter Bugis-Makassar.

Seperti diketahui, beredar rekaman video dan suara mirip Mohammad Ramdhan 'Danny' Pomanto. Rekaman yang berdurasi 1 menit 58 detik tersebut menampilkan wajar Danny Pomanto dan kemudian beralih pada sebuah percakapan yang membahas soal penangkapan Edhy Prabowo dan tokoh-tokoh yang diuntungkan dalam penangkapan itu.

"Makanya, kalau urusannya Edhy Prabowo ini, kalau Novel (Baswedan) yang tangkap, itu berarti JK (Jusuf Kalla). JK - Anies tuh. Maksudnya kontrolnya di JK. Artinya begini, dia sudah menyerang Prabowo. Yang kedua, nanti seolah-olah Pak Jokowi yang suruh, Prabowo dan Jokowi baku tabrak. Ini kan politik," tutur sosok yang ada dalam rekaman tersebut.

Pada rekaman tersebut juga disebutkan penangkapan Edhy Prabowo akan berimbas pada keretakan hubungan Jokowi dengan Prabowo sehingga momen itu disebut akan menguntungkan JK dan Anies Baswedan pada Pilpres 2024.

"Kedua, Prabowo yang turun karena dianggap bahwa korupsi pale di sini, calon presiden to. Berarti Anies dan JK yang diuntungkan. Jadi yang paling untung ini JK. Chaplin yang untung. Jago memang mainnya. Tapi kalau kita hafal, apa yang dia mau main ini," tuturnya lagi.

Dihubungi secara terpisah, Danny Pomanto mengakui suara tersebut adalah miliknya. Hanya, Danny menyebut perbincangan tersebut hanyalah sebuah analisa politik dan perbincangan lepas dirinya dengan beberapa orang.

"Jadi itu adalah percakapan di dalam rumah saya. Dalam rumah saya orang rekam. Jadi sebenarnya itu adalah percakapan biasa, analisis politik dan hak setiap orang kan begitu. Sebenarnya saya korban ini. Kenapa ada yang rekam dan sebar. Aneh," kata Danny kepada detikcom.

"Orang tanya bagaimana dampaknya dan saya terangkan tidak ada karena ini konstelasi nasional. Ini perbincangan pribadi, diskusi gitu," imbuh dia.

Dia menyebut pihak yang merekam perbincangan itu adalah tamunya yang sedang berdiskusi dengannya. Langkah selanjutnya, rencananya tim hukumnya akan menindaklanjuti penyebaran rekaman itu.

"Karena itu kan penyebaran dan saya merasa dirugikan. Kan saya dibenturkan dengan orang lain. Orang punya hak untuk punya pendapat dalam rumah saya sendiri, rumah saya itu," pungkasnya.

(mul/mpr)