Sempat Jadi Alat Tukar Utama di Rupat, Ringgit Mulai Digantikan Rupiah

Johanes Randy - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 15:56 WIB
Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia memperlihatkan mata uang ringgit Malaysia setelah selesai masa kontrak mereka di negeri Jiran itu, Jakarta (06/08/2002). File/detikFoto.
Foto: Dikhy Sasra
Rupat -

Memiliki kedekatan dengan Malaysia, dahulu uang Ringgit Malaysia sempat menjadi mata uang yang juga dipakai di Pulau Rupat. Perlahan, tren itu mulai menghilang. Pulau Rupat di Provinsi Riau menjadi salah satu pulau terluar Indonesia memang berbatasan langsung dengan Port Dickson di Malaysia, berjarak sekitar 38 Km saja dari Kecamatan Rupat Utara.

Dulu Pulau Rupat hanya merupakan satu kecamatan, kedekatan itu membuat tak sedikit baik warga Rupat mau pun Malaysia yang saling melakukan transaksi. Akibatnya, uang Ringgit Malaysia masuk ke Pulau Rupat dan menjadi salah satu mata uang pembayaran selain rupiah.

Dalam ekspedisi Tapal Batas dengan BRI, detikcom mencari tahu perihal kebiasaan unik di Pulau Rupat tersebut dan prakteknya kini. Oleh Sekretaris Kecatamatan Rupat Utara Ahmad Tarmizi, cerita itu memang dibenarkan adanya.

"Kalau dulu macam tak ada batas. Dulu kita bawa kelapa ke perbatasan Malaysia di laut itu langsung barter gula makanan sembako lain. Itu saya rasa Pulau Rupat ini masih satu kecamatan, Rupat saja. Waktu itu memang masih berlaku dua mata uang, Ringgit dan Rupiah," cerita Ahmad saat ditemui detikcom di kantornya.

Selain lewat cara barter, uang Ringgit Malaysia juga masuk ke Pulau Rupat lewat para pekerja setempat yang mengadu nasib ke Negeri Jiran. Uang Ringgit Malaysia masih diberikan sebagai gaji pekerja, yang akhirnya dibawa kembali ke Rupat.

Hanya dijelaskan oleh Ahmad, praktek peredaran uang Ringgit kini di Pulau Rupat sudah tak semasif dulu. Khususnya semenjak keimigrasian antarkedua negara diperketat.

"Sekarang kita tahu sendiri aturan Pemerintah keimigrasian kita. perbatssan antarnegara itu cukup ketat, jadi tak bisa lagi seperti itu. Tetap hubungan baik antara negara Malaysia dan Indonesia terutama di Rupat Utara ini terjalin, karena mereka merasa seperti keluarga sendiri," ujarnya.

Walau telah jauh berkurang, tapi nyatanya peredaran uang Ringgit Malaysia di Pulau Rupat masih terjadi. Kabar itu diakui oleh Pelaksana Jabatan (PJ) Bupati Bengkalis, Syahrial Abdi saat ditemui detikcom di Pekanbaru.

"Transaksi yang masih kita temukan kemarin, Ringgit ini kebiasaan dari dulu karena ini perdagangan lintas negara. Pekerja-pekerja kita tadi pulangnya bawa Ringgit," ujar Abdi.

Di Pulau Rupat, uang Ringgit itu pun banyak diterima dan ditukarkan ke dalam mata uang Rupiah lewat sejumlah toko kelontong yang banyak dimiliki orang keturunan Tionghoa di sana.

Persoalan itu juga menyita perhatian Pemimpin Cabang BRI Dumai, Muhammad Fendi Maulana saat bertemu detikcom di Rupat Tengah. Hadir di Pulau Rupat, BRI juga dapat memfasilitasi penukaran mata uang asing.

"Terkait money changer, di seluruh kacab BRI bisa dilakukan. Di USD, dolar singapura, ringgit, yen, real, remnibi. Kami tidak bisa mengesampingkan peluang tersebut, karena seiring dengan pertumbuhan wisata maka orang yang datang ke tempat tersebut pasti tidak hanya dari domestik. Pasti ada dari luar juga," ujar Fendi.

Pada akhirnya, keberadaan Ringgit Malaysia tak ubahnya dengan identitas dari Pulau Rupat sendiri. Walau Rupiah menjadi mata uang wajib di Tanah Air, tapi Ringgit Malaysia memang masih mengambil bagian dalam kegiatan transaksi ekonomi di Pulau Rupat di skala yang lebih kecil.

Program Tapal Batas mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(mul/mpr)