MER-C dan Toleransi Muslim-Buddha di Myanmar

Sudrajat, Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 10:06 WIB
RS Indonesia di Rakhine State Myanmar
Umat Islam dan Buddha berpose di depan RS Indonesia di Rakhine State (Foto: dok. MER-C)
Jakarta -

Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad mengungkapkan pihaknya tak cuma membantu pengobatan terhadap para korban bencana dan perang. MER-C juga turut mempromosikan toleransi antar umat beragama seperti dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bway Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar.

Inisiatif pembangunan RS sudah muncul sejak 2012, tapi pemerintah Myanmar baru memberikan izin pada 2015 setelah melihat netralitas MER-C di lapangan. Pemerintah Myanmar memberikan lahan seluas 4.000 meter persegi.

"Sejak dulu kami dekat dengan pemerintah, salah satu contohnya saat pembangunan RS Indonesia di Myanmar," kata Sarbini Abdul Murad dalam Blak-blakan yang tayang di detik.com, Jumat (4/12/2020).

Kala itu pengurus MER-C menemui Wakil Presiden yang juga Ketua PMI Jusuf Kalla pada 16 Juni 2016. Mereka menyampaikan agar pembangunan rumah sakit sebaiknya melibatkan umat Buddha di Indonesia. Di sana hadir Ketua Umum Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) Hartati Murdaya dan suaminya, Widyawimarta Poo. Walubi menyatakan kesiapannya ikut membantu mendanai pembangunan konstruksi.

Tentu prose pembangunan di lapangan tak mudah. Di lapangan banyak tantangan, seperti kendala keamanan dan hujan yang terus-menerus, sehingga menyebabkan banjir, dan kesulitan dalam mencari pekerja dan material serta kinerja kontraktornya."Maksudnya agar dunia internasional tahu bagaimana kita bertoleransi antarumat beragama. Kami bangun rumah sakit didanai Walubi, yang mengerjakan MER-C dan PMI," ujar Sarbini, yang biasa disapa 'Dokter Ben'.

Pada 10 Desember 2019, pembangunan rumah sakit selesai dan diserahkan kepada pemerintah Myanmar melalui Menteri Kesehatan dan Olahraga Nay Pyi Taw. Rumah sakit tersebut dilengkapi dengan generator yang cukup besar dari 125 kVA yang dibutuhkan, tapi disediakan 220 kVA, kamar jenazah, landscaping, serta groundtank yang cukup besar

Dari cerita para relawan MER-C di lapangan, kata Sarbini, umat Islam dan Buddha bekerja secara bersama-sama membangun rumah sakit tersebut. "Rumah sakit ini menjadi simbol perdamaian dan toleransi, bukan hanya bagi warga Rakhine, namun juga seluruh Myanmar," kata Sarbini.

(jat/jat)