Jelang Imlek di Yogyakarta, Kue Keranjang Laris Manis
Jumat, 27 Jan 2006 19:44 WIB
Yogyakarta -
Perayaan tahun baru Cina (Imlek) selalu identik dengan kehadiran kue keranjang. Menjelang Imlek pada pembuat kue keranjang di Yogyakarta kebanjiran pemesanan."Kue keranjang itu sama dengan keberadaan ketupat dan opor ayam saat lebaran," kata Siauw Lie Tien (60), salah satu pembuat kue keranjang di Jl Tukangan, Danurejan Yogyakarta, Jumat (27/1/2006). Menurut dia, kue keranjang yang dikenal sebagai simbol kekerabatan hanya bisa dijumpai menjelang perayaan Imlek. Setiap keluarga Tionghoa yang akan merayakan Imlek biasanya mempunyai persediaan banyak kue keranjang untuk dibagi-bagikan atau menjadi santapan bersama di rumah.Untuk membuat kue pada tahun ini, jelas Siauw Lie, sejak tiga minggu sebelum Imlek sudah menghabiskan sekitar 15 ton tepung ketan dan 15 ton gula pasir. Namun pada awal bulan Januari sudah ada pesanan baik dari perseorangan maupun toko-toko yang akan dijual lagi. Pesanan itu tidak hanya warga Yogyakarta tapi juga ada yang berasal dari Magelang, Semarang, Klaten, Purworejo dan Kebumen. "Sejak Kamis kemarin hingga hari ini pesanan semakin banyak dan sudah menghabiskan 4 ton gula dan tepung ketan," tutur Siauw Lie.Selama sepekan terakhir ini, kue keranjang yang paling banyak dipesan ukuran kecil dengan berat sekitar 4 ons dengan harga Rp 5 ribu. Namun mulai hari ini, paling banyak pesanan kue ranjang ukuran besar ukuran 1 kg dan 2 kg. "Untuk yang besar biasanya dibentuk bertingkat dan dijual per paket seharga Rp 50 ribu," tandasnya.Menurutnya, kue keranjang memiliki kelebihan dibanding dengan makanan lainnya. Yaitu tahan lama sampai satu bulan lebih dan tidak basi. Resep tahan lama itu karena tepung beras ketan dan gula pasir dibuat adonan dengan perbandingan 1 banding 1. Setelah dicampur dimasak adonan itu dibiarkan mengental selama satu hari. Adonan yang sudah diendapkan tersebut, kemudian dikukus selama kurang lebih delapan jam. Waktu mengukus pun tidak boleh kurang tidak boleh lebih karenahasilnya kurang baik. "Lebih dari 8 jam hasilnya terlalu keras. Kurang dari delapan jam kuenya tidak tahan lama," katanya. Agar benar-benar matang, selama proses pengukusan adonan tidak boleh diganggu. Setelah delapan jam, hasil kukusan dimasukkan dalam cetakan kue yang sudah disiapkan dan ditunggu setengah hari lagi agar padat. Kue dalam cetakan pun tidak boleh langsung dibungkus tetapi harus ditunggu sampai benar-benar dingin. "Prosesnya memang lama. Untuk membuat satu adonan paling cepat dibutuhkan waktu dua hari. Hasilnya pun bisa tahan lama," aku Siauw Lie yang sudah menekuni usaha ini sejak tahun 1970-an itu.
(ton/)










































