Pakar Mikrobiologi Khawatirkan Ceceran Mikroba di BPOM

Pakar Mikrobiologi Khawatirkan Ceceran Mikroba di BPOM

- detikNews
Jumat, 27 Jan 2006 14:24 WIB
Bandung - Usai ledakan yang terjadi di laboratorium II potensi mikrobiologi BPOM, kalangan pakar mikrobiologi mengkhawatirkan adanya ceceran mikroba patogen seperti jamur, virus dan bakteri yang diduga bercampur dengtan lingkungan luar. Mikroba tersebut dikawatirkan akan mengkontaminasi dan menyebabkan efek buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar."Untuk itu BPOM harus melakukan sterilisasi, biar masyarakat tenang. Mikroba patogen ini kasat mata, bisa menimbulkan iritasi dan inveksi serius," ungkap Ketua Lab Mikrobiologi ITB Marlia Singgih kepada detikcom di Fakultas Farmasi ITB, Jalan Ganesha Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/1/2006).Meledaknya laboratorium mikrobiologi BPOM ini sangat disayangkan. Pasalnya, lanjut Marlia Singgih, lab ini termasuk laboratorium terbaik yang dimiliki Indonesia. Bahkan badan dunia WHO, telah memberikan penilaian akreditasi baik dan masuk peringkat 4 dunia terbaik.Singgih mengkhawatirkan akibat ledakan tersebut membuat reputasi lab milik pemerintah ini menjadi buruk. Ia sependapat dengan Ketua BPOM Sampurno, kemungkinan kecil terjadi ledakan dari dalam ruang lab, karena mikroba tidak menjadi pemicu ledakan.Ia menilai standar operasional lab mikrobiologi sangat ketat dibandingkan dengan jenis lab lainnya. Di antaranya memiliki persyaratan khusus seperti harus memiliki alat pemadam api, air shower, pakaian khusus dan dilakukan pengecekan berkala setiap harinya."Bahkan tidak semua orang bisa keluar masuk lab biologi. Harus lihat kronologis aktivitas lab sebelum meledak. Termasuk mengecek pada klep otomatis dan ruang destruktif," ungkapnya.Lab Mikrobiologi biasanya memiliki tiga ruang khusus yang disekat. Temboknya pun diukur dengan ketat. Menurut pengalamannya, ada beberapa yang bisa menyebabkan terjadinya ledakan. "Misalnya, ada gas cair atau likuid yang mampat, pada elpiji, klep otomatis dan terjadi kebocoran pada ventilasi," katanya. Seingat Singgih, lab ini dibuat tahun 1980 atas bantuan dari JICA Jepang. Kejadian ini merupakan kejadian pertama di Indonesia sebuah lab mikrobiologi meledak. Sebelumnya, terjadi ledakan di lab Kimia ITB tahun 1979. "Itu pun karena kelalaian karyawan yang membuat petasan," katanya. Dengan berbagai alasan di atas, Singgih menduga penyebab ledakan BPOM berasal dari luar lab. (jon/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait