Mendes Bicara Pentingnya Peran Kampus untuk Dampingi Pertanian Desa

Nurcholis Maarif - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 16:34 WIB
Mendes Abdul Halim
Foto: Kemendes
Jakarta -

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar menyebut perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pembangunan desa yang salah satunya pada sektor pertanian yang ada di desa. Perguruan tinggi untuk desa (Pertides) yang telah dibentuk beberapa tahun lalu telah berperan dalam pembangunan di desa.

Gus Menteri, sapaan akrabnya, menyebut Pertides berperan karena dalam pembentukannya dilatarbelakangi agar perguruan tinggi tidak lepas terlalu jauh dari berbagai permasalahan yang ada di desa.

"Pertides inilah yang kemudian memayungi kita untuk melakukan berbagai hal apa saja yang bisa dilakukan sesuai dengan apa yang menjadi fokus masing-masing perguruan tinggi dalam pendampingan untuk mengatasi permasalahan yang ada di desa," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (30/11/2020).

Hal itu disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Lokakarya Nasional 2020 yang digelar Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) secara virtual dari Kantor Kemendes PDTT.

Abdul Halim menyebut salah satu permasalahan yang ada di desa yakni, terkait dengan sektor pertanian. Menurutnya padahal sektor pertanian penting karena dari 74.953 desa yang tersebar di seluruh Indonesia, terdapat 70 persen wilayahnya ada di sektor pertanian.

"Tentu ini juga akan sangat membutuhkan pendampingan karena berbagai upaya dalam keberlanjutan produktivitas yang berkelanjutan masih dalam permasalahan," katanya.

Ia menilai dalam permasalahan produktivitas berkelanjutan dikarenakan banyaknya pendampingan yang sifatnya sesaat atau tidak berkelanjutan, sehingga produktivitasnya turut mengalami penurunan.

"Awalnya saat dilakukan pendampingan produktivitasnya bagus, tapi setelah ditinggal menjadi menurun. Inilah yang kemudian kita selalu meminta agar segala bentuk kerja sama harus ada pendampingan pasca dicapainya produk. Jadi, jangan kemudian dicapainya produk sudah tidak ada sentuhan lagi," katanya.

Waktu yang dibutuhkan dalam pendampingan, ujar Abdul Halim, dibutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun agar menjadi sebuah kultur atau budaya bagi masyarakat desa yang bekerja atau berusaha pada sektor pertanian.

"Kalau sudah menjadi kultur atau budaya, baru ditinggal. Sebelum menjadi budaya kalau kemudian ditinggal itu akan kembali ke asalnya karena tidak mendampingi lagi. Sudah tidak ada lagi yang mengawasi, mengingatkan, dan memotivasi. Ini sebenarnya harus dimotivasi terus menerus," katanya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi dalam permasalahan pasca produktivitas dalam bidang pertanian dibutuhkan pendampingan dalam kurun waktu tertentu.

"Nah di bidang pertanian ini memang kita sangat membutuhkan pendampingan berkelanjutan. termasuk di dalamnya ada penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG). TTG itu sama, awal-awal semangat, lama-lama kalau tidak ada pendampingan akan kembali lagi ke tradisional. Nah ini juga yang perlu kita perhatikan. Jadi, pada prinsipnya kita memang sangat butuh pendampingan secara berkelanjutan," katanya.

(ega/ega)