Tak Masuk Kepengurusan MUI, Din Syamsuddin: Saya Tidak Bersedia

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 16:58 WIB
Din Syamsuddin dan Gatot Nurmantyo menghadiri deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Jawa Barat, Senin (7/9/2020). Deklarasi dilaksanakan di sebuah rumah, Kota Bandung, Senin (7/9/2020).
Foto: Yudha Maulana
Jakarta -

Nama Din Syamsuddin dan sejumlah tokoh yang lekat dengan PA 212 hilang dari kepengurusan MUI yang baru. Din Syamsuddin mengatakan dirinya tidak lagi menjabat dalam pengurusan MUI karena tidak bersedia.

"Saya pribadi tidak terlibat pada gerakan 212. Dan saya tidak masuk dalam kepengurusan baru adalah karena saya tidak bersedia. Sebelum Munas MUI, saya sudah sampaikan di dalam Rapat Pleno terakhir Dewan Pertimbangan MUI pada 18 November 2020 bahwa saya ingin berhenti dari keaktifan MUI," kata Din saat dihubungi detikcom, Jumat (27/11/2020).

Lebih lanjut, ia keberatan jika dia dikaitkan dengan gerakan 212. Din menyebut diantara pengurus yang masuk struktur baru MUI, ada pula aktivis 212.

"Jelas berita demikian keliru, mengandung insinuasi, dan persepsi negatif. Tidak masuknya sejumlah tokoh ke dalam kepengurusan MUI tidaklah serta merta karena mereka kritis, dan pendukung Gerakan 212. Kalau demikian, nanti bisa dipersepsikan yang masuk dalam kepengurusan MUI adalah ulama tidak kritis atau pro pemerintah,' ujarnya.

"Saya tidak ikut 212. Juga salah kalau dikaitkan dengan 212, karena di antara pengurus yang masuk ada juga aktivis 212," imbuhnya.

Din menyatakan salah satu alasan mengapa dia tak bersedia kembali menjadi pengurus MUI karena ia merasa sudah lama terlibat di MUI. Ia menyebut sudah 25 tahun terlibat di MUI, yaitu sejak 1995 sebagai Sekretaris, 2000 sebagai Sekretaris Umum, 2005-2010 sebagai Wakil Ketua Umum, 2010-2014 sebagai Wakil Ketua Umum, 2014-2015 sebagai Ketua Umum (waktu itu KH. Ma'ruf Amin sebagai Wakil Ketua Umum), kemudian 2015-2020 sebagai Ketua Dewan Pertimbangan.

"Dalam kaitan ini saya meminta maaf kepada segenap anggota Wantim MUI yang mendukung agar saya tetap memimpin Wantim MUI," ujarnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan alasannya tidak menghadiri Munas MUI dan mewakilkan kepada Wakil Ketua Wantim MUI Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin utk memberi sambutan dan menjadi formatur. Din menyebut alasannya karena ia mengetahui ada pihak yang ingin menjadi Ketua Wantim MUI dan pengurusnya sehingga dia memberi kesempatan bagi pihak tersebut.

"Sebenarnya ada alasan, yaitu saya mendengar dan mengetahui ada pihak yang ingin menjadi Ketua Wantim MUI, dan pengurus MUI. Saya berhusnuzhon mereka ingin berkhidmat di MUI, maka sebaiknya diberi kesempatan. Biarlah umat yang menilai dan Allah SWT yang mengganjari," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengungkap keaktifan dalam organisasi tidak sebatas hanya dalam satu organisasi saja. Menurutnya tidak masuk dalam suatu struktur organisasi bukan masalah besar, sebaliknya masuk dalam pengurusan organisasi juga bukan hal yang istimewa.

"Bagi seorang pejuang, khususnya pejuang Islam, perjuangan dan pengabdian untuk umat dan bangsa tidaklah terbatas dapat dilakukan hanya dalam satu lingkaran organisasi seperti MUI, tapi bisa dilakukan pada berbagai lingkaran keaktifan. Jadi tidak masuk dalam kepengurusan suatu organisasi jangan dianggap sebagai masalah besar, begitu pula masuk dalam kepengurusan bukanlah hal istimewa," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2