Mantan Penjual Kue Moci Ini Wakili Prajurit Taruna Diwisuda Panglima TNI

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 12:49 WIB
M. Irul Ferdiansyah pratar dari Akmil (Tiara Aliya Azzahra/detikcom).
Foto: M. Irul Ferdiansyah pratar dari Akmil (Tiara Aliya Azzahra/detikcom).
Jakarta -

Gelaran acara wisuda Prajurit dan Bhayangkara Taruna (Prabhatar) Akademi TNI dan Akpol di tengah COVID-19 dilaksanakan secara daring dan tatap muka. Hanya ada tujuh orang perwakilan taruna (Pratar) TNI-Akpol saja yang diwisuda langsung oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Salah satunya adalah M Irul Ferdiansyah, seorang pratar dari akademi militer (Akmil) yang hadir di Mabes TNI. Dalam kesempatan ini, ia mengungkapkan kebahagiaannya dan mengatakan bahwa menjadi TNI adalah cita-citanya sejak kecil.

"Siap. Sudah menjadi cita-cita saya sedari kecil dan merupakan panggilan jiwa untuk menjadi taruna akademi TNI khususnya Akademi Militer untuk mengabdi pada negara kesatuan RI," kata Irul saat ditemui di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI,Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (27/11/2020).

Irul bukanlah seorang anak yang lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang militer. Ayahnya hanyalah seorang sopir. Sementara ibunda Irul sudah tiada.

Sebelum menempuh pendidikan Akmil, Irul kerap menemui berbagai kegagalan saat mendaftarkan diri sebagai tentara. Saat itulah, ia pun memutuskan untuk mencari pengalaman dengan bekerja.

"Dan selama saya mendaftar menjadi tentara saya daftar dua kali. Yang pertama saya gagal, kemudian saya bekerja untuk mengembangkan diri dan untuk menjadi mandiri. Setelah itu saya berusaha untuk lebih menjadi Tentara Nasional Indonesia, berusaha keras untuk menjadi tentara," sebutnya.

Berbagai pekerjaan pun ia lakoni, mulai dari menjadi pelayan hingga menjadi pedagang kue moci. Meskipun telah bekerja, impian Irul untuk menjadi seorang tentara tak pernah surut.

"Sudah menjadi cita-cita dari kecil. Sebelum saya jadi tentara saya pernah bekerka sebagai pelayan warung, karyawan di pabrik, dan penjual kue moci," ungkapnya.

Meskipun jalan untuk menjadi seorang tentara cukup panjang, Irul mengaku tak pernah patah semangat untuk meraih mimpinya. Menurutnya, ia harus bisa membanggakan ibunya yang telah tiada.

"Saya mengingat bahwa saya harus bisa membanggakan ibu yang sudah meninggal," imbuhnya.

Kini, ia pun dinyatakan lulus menempuh pendidikan tahap satu di Akademi TNI dan Akpol. Bahkan, ia menjadi satu dari tujuh perwakilan yang disematkan pangkat pratarnya oleh Panglima TNI.

Selanjutnya
Halaman
1 2