Djoko Tjandra Ungkap Tommy Sumardi Besan Eks PM Malaysia Najib Razak

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 22:56 WIB
Djoko Tjandra bersaksi untuk Tommy Sumardi (Zunita/detikcom)
Djoko Tjandra bersaksi untuk Tommy Sumardi (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Djoko Tjandra mengungkapkan hubungannya dengan terdakwa Tommy Sumardi, rekannya yang terseret di kasus suap red notice dua jenderal Polri. Dia mengaku meminta bantuan Tommy Sumardi untuk menanyakan status DPO ke Interpol.

Pada awalnya, Djoko Tjandra menjelaskan bagaimana dia meminta bantuan Tommy Sumardi dan menunjuk Tommy yang berada di Indonesia sebagai konsultan terkait urusan status DPO Djoko Tjandra di Interpol Polri. Djoko dan Tommy juga menyepakati fee Rp 10 miliar di urusan DPO ini.

Atas bantuan Tommy itu, Djoko akhirnya bisa ke Indonesia setelah istrinya menerima surat dari NCB Interpol berkaitan dengan status DPO nya.

"Sampai ada DPO rilis, dan terima surat dari NCB bahwa dikatakan red notice nggak ada, dan di samping itu ada surat pergi ke imigrasi," kata Djoko Tjandra saat bersaksi untuk Tommy Sumardi di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Kamis (26/11/2020).

Di persidangan ini, hakim anggota Joko Subagyo menanyakan terkait adanya pertemuan antara Djoko Tjandra dan Tommy Sumardi setiba Djoko di Indonesia. Dia mengaku, setiba di Indonesia, dia tidak pernah bertemu dengan Tommy.

Justru sebaliknya, Djoko Tjandra mengundang Tommy datang ke Malaysia dan akan dijamu. Sebab, kata Djoko, Tommy adalah besan dari Najib Razak.

"Tidak bertemu. Karena kita janjian 'Tom kapan mau ke KL (Kuala Lumpur)', karena saat saya tahu Pak Tommy besan dengan ex Prime Minister Malaysia, Datuk Sri Najib (Najib Razak), sehingga saya mengajak kapan ke Malaysia, jadi pikiran saya undang Anda itu ngobrol persahabatan," tutur Djoko Tjandra.

Dalam perkara ini, Tommy Sumardi didakwa bersama-sama dengan Djoko Tjandra memberikan suap ke Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo. Irjen Napoleon sendiri telah disidang dalam perkara ini, begitu pun Brigjen Prasetijo.

Irjen Napoleon sebelumnya menjabat Kadivhubinter Polri. Sedangkan Brigjen Prasetijo selaku Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri.

Dalam surat dakwaan, Tommy diduga memberikan SGD 200 ribu dan USD 270 ribu kepada Irjen Napoleon dan USD 150 ribu kepada Brigjen Prasetijo. Jaksa menyebut uang itu berasal dari Djoko Tjandra untuk kepentingan pengurusan red notice Interpol dan penghapusan status Djoko Tjandra dalam daftar pencarian orang (DPO).

(zap/imk)