Data COVID-19 Jateng 7.463 Kasus, di bawah DKI Jakarta dan Jabar

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 22:41 WIB
Ganjar Pranowo
Foto: dok. Pemprov Jateng
Jakarta -

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan data COVID-19 di Jawa Tengah hingga Selasa (24/11) hanya sebanyak 7.463 kasus. Terkait data mencapai 10.464 kasus dipastikan terjadi karena input data pusat delay.

"Makanya saya kaget, katanya kita paling tinggi. bedanya juga banyak sekali sampai 3.000 data. Kalau besok tiba-tiba dimasukkan dalam rilis angka 3.000 itu, pasti gedhe, pasti meningkat," terang Ganjar usai rapat evaluasi COVID-19 di Kantor Pemprov Jateng yang dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (24/11/2020).

Lebih jauh Ganjar menyebut, dari pengecekan tanggal 1-10 November 2020 tercatat ada sekitar 809 data delay yang ditempelkan sebagai data tambahan. Bahkan, terdapat 18 nama yang sebetulnya sudah menjalani tes sejak bulan Juni, namun baru dimasukkan dalam rilis tersebut. Terkait hal ini, Ganjar menjelaskan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

"Kita minta teman-teman untuk clearing data dengan pusat. Kalau ada data terlambat itu tidak apa-apa, tinggal ditambahkan. Iya, terpenting bisa ditambahkan atau dimasukkan agar publik atau masyarakat bisa tahu. Jadi itu karena delay, dan itu bukan data harian," tambahnya.

Walau demikian, ia tidak memungkiri adanya peningkatan angka kasus aktif COVID-19 di Jawa Tengah, seiring dengan meningkatnya jumlah tes. Kini, tes PCR di Jateng sendiri sudah melebihi target WHO, dengan total 1.416 orang per 1 juta penduduk per minggu.

"Misalnya saya sebutkan, pada minggu ke-4 Oktober tes PCR Jateng 625/1 juta penduduk, naik menjadi 809/1 juta penduduk pada minggu 1 November dan sekarang mencapai 1.416/1 juta penduduk pada minggu ke-2 November. Meski kasus tinggi karena tes digencarkan, namun untuk tempat tidur, ICU masih aman. Beberapa rumah sakit juga melakukan penambahan," tegas Ganjar.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo juga membenarkan adanya perbedaan data penanganan COVID-19 antara pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan pusat. Ia memastikan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi agar persoalan tersebut cepat diselesaikan.

"Delay itu merupakan upaya kehati-hatian, sehingga lama. Meski demikian data delay agar di sertai dengan penjelasan," ujar Yulianto.

Berdasarkan pantauan dari situs penanggulangan Virus Corona di masing-masing provinsi di Pulau Jawa, Jawa Tengah sendiri masih berada di bawah DKI Jakarta (8.559 kasus) serta Jawa Barat (7.641 kasus).

(prf/ega)