HNW Ungkap Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II Beri Rp 1,3 T demi Negara

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 10:48 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyebut Raja Kesultanan Siak Indrapura Riau yakni Sultan Syarif Kasim II merupakan salah satu orang orang yang memberikan kekuasaan dan kekayaan untuk membantu pembangunan Indonesia.

Menurutnya, kala itu beberapa saat setelah Indonesia merdeka Sultan Syarif Kasim II berjasa bagi pembangunan Indonesia karena menyerahkan kedaulatan kerajaan dengan memilih bergabung dengan NKRI.

Ia juga menyerahkan tanah, mahkota kerajaan berbahan emas dan uang sebesar 13 juta gulden, setara dengan Rp 1,3 triliun. Harta benda itu diserahkan agar lndonesia bisa menjadi negara yang kuat dan kokoh.

"Ini adalah keteladanan yang luar biasa, pengorbanan material yang sangat besar. Dan itu membuktikan, bahwa NKRI benar-benar hasil pengorbanan seluruh masyarakat. Bukan perjuangan dan pengorbanan segelintir orang saja," ujar HNW dalam keterangannya, Selasa (24/11/2020).

Hal ini ia ungkapkan secara daring pada acara Temu Tokoh Nasional atau Kebangsaan, kerja sama MPR dengan Pengurus Daerah Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) Kota Dumai. Acara tersebut berlangsung di Kota Dumai, Provinsi Riau, Senin (23/11).

Ikut hadir pada acara tersebut Pertahanan Hutabarat M. Pdi Sekretaris Persatuan Mubaligh Dumai (PMD), yang juga pembicara pendamping pada acara tersebut. Lalu, M. Ardi Nasution, Pimpinan PD IKADI Dumai, serta para tokoh masyarakat Kota Dumai.

HNW melanjutkan selain sumbangan dan pengorbanan masyarakat, tegaknya NKRI juga ditopang oleh kesepakatan para pendiri bangsa. Salah satu kesepakatan yang paling penting adalah diterimanya Pancasila 18 Agustus 1945 sebagai dasar dan Ideologi negara.

"Jangan sampai kesepakatan para pendiri bangsa, itu tercabik dengan alasan apapun. Karena tercabiknya salah satu kesepakatan, bisa berbuntut panjang. Bahkan bisa berakibat bubarnya NKRI," jelasnya.

Hidayat menilai negara Uni Soviet bubar karena pemerintahnya memaksakan ideologi dari luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat. Padahal, sebelum bubar, Soviet adalah negara dengan kondisi ekonomi serta pertahanan keamanan sangat kuat.

"Soviet adalah lawan Amerika, baik di bidang pertahanan maupun ekonomi. Bahkan mata-mata Soviet merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Namun, karena pemimpinnya mengadopsi ideologi dari luar, yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat, terjadilah gejolak hingga pemisahan wilayah dan pembubaran negara," jelasnya.

"Sementara Yugoslavia adalah negara yang bubar, setelah bapak bangsanya meninggal. Negara Yugoslavia hanya bertumpu pada satu orang, bapak bangsa, yaitu Josip Broz Tito. Ketika bapak bangsa meninggal potensi negara pun turut sirna, sehingga semua wilayahnya memisahkan diri dan membentuk negara-negara kecil sendiri-sendiri," imbuh HNW.

Sementara itu, Sekretaris Persatuan Mubaligh Dumai (PMD) Pertahanan Hutabarat mengingatkan ketertarikan dunia luar terhadap Indonesia sangat besar, sehingga banyak yang tidak menghendaki Indonesia menjadi. Alasannya, kata dia, karena ingin menguasai segala kekayaan alam yang ada di Indonesia.

"Bangsa Indonesia tidak boleh lepas dari Pancasila. Karena Pancasila adalah alasan bagi bangsa Indonesia tetap bersatu padu hingga kini," pungkasnya.

Lihat juga video 'HNW Dorong Pemerintah Tambah Kuota Jemaah Haji Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mpr)