Cahaya Tenaga Surya Kini 24 Jam Terangi Pos Yabanda Papua

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 10:00 WIB
ESDM
Foto: ESDM
Jakarta -

Dengan langkah tegap, tangan pria itu kokoh menenteng senjata. Berbalut seragam lengkap dan pelindung kepala, ia berjalan gagah menuju pos tinjau di sudut timur Pos TNI Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Yabanda.

Terik matahari di siang itu tak mengganggu konsentrasinya, siap siaga memantau jauh ke depan, menjaga perbatasan nusantara dari Kampung Yabanda, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, berjarak sekitar 140 km dari ibukota Papua, Jayapura.

Ialah Dedy Harismansyah (28), prajurit TNI berpangkat Praka dari Batalyon Infanteri Raider 100/Prajurit Setia dari Kodam Bukit Barisan yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-Papua Nugini. Bulan ini memasuki bulan keenam ia bersama 20 orang prajurit lainnya bertugas di Pos Pamtas Yabanda, mengamankan perbatasan negara yang ada di Provinsi Papua tersebut.

Berbeda dengan saat kedatangannya, kini listrik di Pos Yabanda telah menyala 24 jam. Sejak beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat berkapasitas 5 kiloWatt peak (kWp). Listrik tersebut digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, mulai dari penerangan di malam hari, menyalakan TV, mengecas HP, hingga menyalakan perangkat hiburan lain.

"Di awal bertugas di Yabanda, kami sempat melewati malam tanpa cahaya, listrik menyala tergantung ketersediaan bensin untuk genset, beberapa kali hanya menyala 1 jam di jam 19.00 hingga jam 20.00 saja. Kalau bensin habis, pasrah sudah dengan gelap malam, hiburan juga tidak ada," ujar Dedy kepada esdm.go.id saat ditemui di Pos Pamtas Yabanda pada Kamis lalu.

Ia mengaku bersyukur, karena listrik sudah menyala 24 jam, sinyal komunikasi pun turut menjadi lancar. "Alhamdulillah sekarang sudah menyala siang-malam, saat istirahat pun bisa menghubungi keluarga di rumah dengan nyaman," ungkapnya..

Tak hanya Dedy dan prajurit lain, rupanya warga kampung ikut merasakan manfaat dari hadirnya listrik di Pos Pamtas Yabanda. Sebut saja Musa Mambraku (49), seorang guru SD Impres Yabanda yang mengaku sangat terbantu karena dapat mengikuti perkembangan berita terkini, melalui televisi yang disediakan untuk warga setempat di pos tersebut.

"Senang sekali bisa numpang mengecas HP juga. Di kampung kami pakai genset untuk sebagian warga. Harga seliternya 15 ribu, mahal sekali. Sebagian lainnya masih gelap. Jadi kami lebih sering kesini, gratis listriknya, hiburan juga ada," ujar Musa.

PLTS Terpusat di Pos Pamtas Yabanda sendiri merupakan satu dari sembilan PLTS Terpusat yang dibangun di Pos Pamtas Provinsi Papua melalui APBN Kementerian ESDM Tahun Anggaran 2019. Kedelapan pos pamtas lainnya yaitu Pos Pamtas Kalibom, Kalilapar, KM 140, Oksibil, Kiwirok, Okbibab, Somografi dan Tatakra.

Dengan kehadiran PLTS di pos jaga TNI diharapkan dapat meningkatkan kemandirian pos-pos jaga batas negara dalam menyediakan energi. Tanpa harus bergantung pada suplai bensin atau diesel yang selama ini digunakan.

(ega/ega)