Ternyata Jejak Djoko Tjandra Sempat Terendus di Taiwan hingga Korsel

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Senin, 23 Nov 2020 15:21 WIB
Terdakwa Djoko Tjandra terlihat mengenakan E.A Mask atau Ecom Air Mask Anti Bacteria and Virus buatan Jepang untuk tangkal Corona.
Djoko Tjandra sewaktu mengikuti persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra ditangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir Juli 2020 berkat kerja sama police to police antara Polri dan Polisi Diraja Malaysia (PDRM). Saat itu Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo turun langsung membawa Djoko Tjandra dari Malaysia ke Indonesia.

Djoko Tjandra kabur sejak 2009 dengan status sebagai terpidana perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali. Setelahnya, kabar Djoko Tjandra sering dikaitkan dengan negara Papua Nugini, tapi ternyata pelarian Djoko Tjandra diduga tidak hanya di negara itu.

Hal itu diungkapkan mantan Kadiv Humas Polri, Komjen (Purn) Setyo Wasisto, saat memberikan kesaksian dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Setyo diketahui pernah menjabat Sekretaris NCB Interpol pada periode 2013-2015.

"Terkait status red notice kontrol Djoko Tjandra, apakah saudara pernah membuat surat pencegahan penangkapan selama saudara menjabat terkait status yang bersangkutan?" tanya jaksa Zulkipli pada Setyo dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Senin (23/11/2020).

"Pertama, saya pernah menyurat ke Interpol Taiwan karena ada informasi Djoko Tjandra sering ke sana. Kami minta kerja sama NCB Interpol Taiwan memberikan atensi dan apabila masuk ke agar bisa ditangkap dan ditahan," jawab Setyo.

Tak hanya itu, Setyo mengaku pernah pula berkirim surat ke Interpol di Korea Selatan (Korsel). Sebab, dia mendapatkan informasi bahwa keluarga anak Djoko Tjandra akan menikah di Negeri Ginseng itu.

"Kedua, pernah menyurat Interpol dan perwakilan polisi Korea karena kami dapat informasi saya lupa putra atau putri Djoko Tjandra menikah di Korea sehingga, kami berharap ada kerja sama Interpol Korea menangkap yang bersangkutan apabila masuk Korea," ungkap Setyo.

Setyo agak kurang ingat mengenai tahun peristiwa itu. Namun yang pasti menurut Setyo peristiwa itu terjadi semasa dia menjabat Sekretaris NCB Interpol pada 2013-2015.

"Saya lupa, tapi selama kurun jabatan saya," kata Setyo.

"2015?" tanya jaksa lagi.

"Taiwan 2014, Korea 2015, kalau tidak salah," jawabnya.

Jaksa lantas menanyakan kepada Setyo apakah pada 2015 status red notice Djoko Tjandra masih berlaku. Setyo pun mengiyakan.

"Saya menyurat dengan merujuk red notice Djoko Tjandra. Tidak pernah ada penolakan, yang berarti menurut saya masih berlaku," jawab Setyo.

Dalam persidangan ini, Brigjen Prasetijo Utomo duduk di kursi terdakwa. Dia didakwa menerima suap dari Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi sebesar USD 150 ribu. Bila dikurskan, USD 150 ribu sekitar Rp 2,1 miliar.

Selain itu, ada Irjen Napoleon Bonaparte yang didakwa dalam perkara ini, tetapi proses persidangannya digelar terpisah satu sama lain. Irjen Napoleon didakwa menerima suap dari Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi sebesar SGD 200 ribu dan USD 270 ribu. Bila dikurskan, SGD 200 ribu sekitar Rp 2,1 miliar, sedangkan USD 270 ribu lebih dari Rp 3,9 miliar, sehingga totalnya lebih dari Rp 6 miliar.

(dhn/dhn)