MUI: Kerja Keras 10 Bulan Dihancurkan Kerumunan Satu Pekan Terakhir

Tim detikcom - detikNews
Senin, 23 Nov 2020 11:39 WIB
Wasekjen MUI Nadjamuddin Ramly.
Wasekjen MUI Nadjamuddin Ramly. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta -

Wasekjen MUI Nadjamuddin Ramly menyayangkan adanya kerumunan di tengah perjuangan menekan angka kasus Corona. Ramly menyebut kerumunan itu menghancurkan kerja keras selama 10 bulan.

"Kita sangat menyesalkan, kerja keras sepuluh bulan dihancurkan oleh kegiatan-kegiatan kerumunan dalam satu pekan terakhir," ujar Ramly, dalam keterangan tertulis, Senin (23/11/2020).

Ramly menyampaikan hal itu dalam rapat virtual Satgas Penanganan COVID-19, Minggu (22/11) malam kemarin. Rapat itu diikuti lebih dari 500 peserta, termasuk dari unsur satgas berbagai daerah, BPBD, unsur TNI/Polri dan Dinas Kesehatan, terutama yang ada di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Selain itu, rapat ini juga menghadirkan tokoh agama. Selain unsur pimpinan MUI, hadir perwakilan dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, organisasi keagamaan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

MUI, lanjut Ramly, berkomitmen mendukung dan meminta Satgas mengedepankan aksi penyelamatan jiwa manusia.

"Umat Islam tahu betul, untuk dan atas nama penyelamatan jiwa manusia, yang wajib pun bisa diringankan. Wajib salat Jumat di masjid bisa dilakukan di rumah. Idul Fitri di lapangan, bisa di rumah. Wajib merapatkan saf saat salat berjemaah, bisa diatur menjadi berjarak. Itu semua atas nama dan demi penyelamatan manusia. Dalilnya pun jelas, baik dalil naqli maupun dalil aqli. Baik yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis maupun pemikiran ulama," tegasnya.

Ramly menuturkan sudah ada fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI terkait situasi pandemi. Beberapa di antaranya tata cara salat bagi tenaga kesehatan yang tengah merawat pasien COVID19. Lalu fatwa pemulasaraan jenazah COVID-19, kemudian salat Idul Fitri dan salat Idul Adha di rumah masing-masing.

Hal senada disampaikan Ketua Satgas COVID-19 PBNU, M Makky Zamzami. PBNU, kata Makky, berharap kerumunan dalam jumlah besar tak terulang.

Dia juga mengingatkan Satgas dan segenap pemangku kepentingan penanganan COVID-19 melakukan langkah antisipasi musim libur akhir tahun 2020. Dia menyebut perlunya strategi pendekatan yang diperbarui.

"Bila perlu, disesuaikan dengan kearifan lokal. Pesan-pesan protokol kesehatan, lebih baik jika dibuat berbeda antara satu bulan dan bulan yang lain. Bentuk, cara, dan strateginya berbeda, tetapi tujuannya sama," kata Makky.

Simak video '4 Klaster Baru Terkait Kerumunan Habib Rizieq':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2