Menlu Retno: Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah KTT G20 Tahun 2022

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 22 Nov 2020 23:55 WIB
Menlu Retno Marsudi.
Foto: Rahel/detikcom
Jakarta -

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengumumkan Indonesia akan memegang presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada tahun 2022. Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT G20 tahun 2022.

"Saya sampaikan Indonesia akan pegang presidensi G20 pada tahun 2022, semula presidensi Indonesia pada tahun 2023," kata Menlu Retno dalam konferensi pers pertemuan KTT G20 hari kedua yang disiarkan di Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (22/11/2020).

Retno mengatakan perubahan ini karena pada 2023, Indonesia memegang keketuaan ASEAN summit. Untuk itu, menurut Retno Indonesia melakukan pembahasan dengan India dan mengusulkan agar presidensi KTT G20 dimajukan menjadi 2022.

"Mengingat pada 2023 Indonesia akan memegang keketuaan ASEAN maka Indonesia telah melakukan pembahasan mengenai waktu ketentuan G20 dengan India. India juga miliki usulan yang sama agar dapat memegang presensi G20 pada 2023 dengan demikian Indonesia memegang presidensi KTT G20 2022 sementara India memegang presidensi KTT G20 pada 2023," ujar Retno.

Dengan demikian, Retno mengatakan mulai tahunn 2021 Indonesia akan menjadi bagian dari Troika KTT G20. Hal itu dikarenakan Indonesia telah memegang presindesi KTT G20 tahun 2022.

"Dengan presidensi jatuh 2022, maka mulai 2021 Indonesia sudah akan masuk menjadi bagian dari Troika G20," sebutnya Retno

Selain itu, Retno mengatakan untuk KTT G20 tahun ini menghasilkan Riyadh Summit Leader Declaration. Deklarasi itu berisi sejumlah poin penting yang disepakati oleh para pemimpin negara G20, mulai penanganan COVID hingga upaya pemulihan pascapandemi.

"KTT G20 kali ini telah menyepakati Riyadh Summit Leader Declaration yang berisikan komitmen seluruh kepala negara G20 dalam mengatasi tantangan global termasuk pandemi COVID dan upaya pemulihannya. Menyepakati implementasi penundaan pembayaran kewajiban hutang bagi negara miskin dan negera yang membutuhkan, menjamin akses dan pendistribusian COVID-19 tools termasuk vaksin untuk semua. Dan komitmen untuk mendukung negara berkembang dalam menghadapi tantangan yang disebabkan oleh pandemi dan mendukung pasar yang terbuka dan pemulihan perdagangan dan investasi," tutur Retno.

(ibh/ibh)