Satgas Corona Pemkab Bogor Cerita Sulitnya Tracing Usai HRS ke Megamendung

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Minggu, 22 Nov 2020 13:21 WIB
Habib Rizieq disambut massa di Simpang Gadog jelang ceramah di Megamendung, Bogor.
Habib Rizieq saat disambut di Megamendung. (Sachril Agustin/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melakukan tracing ke warganya usai pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab datang ke Megamendung. Pemkab Bogor pun mengaku banyak warganya yang menolak didata ataupun menjalani tes.

"Iya, awalnya pada nggak mau juga (warga dites masif). Kita lakukan tracing pada mereka. Ada yang mau, ada yang tidak mau, begitu. Ada yang menolak, gitu," kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Kabupaten Bogor Irwan Purnawan, saat dihubungi, Minggu (22/11/2020).

Irwan menjelaskan rapid test ini dilakukan di Desa Sukagalih dan Kuta, Megamendung, selama 2 hari, Kamis (19/11) dan Jumat (20/11). Dia pun menerangkan warga menolak di-rapid test dengan dalih hanya melihat Habib Rizieq Syihab saat di Megamendung.

"Kendala yang itu memang ada, kita sebenarnya ingin mendata juga terhadap yang hadir (ke Pesantren Alam Agrokultural Markaz Syariah di Megamendung). Kan gini, pengakuan masyarakat setempat kalau mereka itu hanya keluar, hanya melihat aja, tapi tidak ikut (ke pesantren), gitu. Acara itu ikut keluar, kemudian ikut kayak gitulah, kayak seperti lambaian tangan, gitu," terangnya.

Dia mengatakan masalah ini dapat diselesaikan ketika Satgas COVID-19 tingkat desa dan kecamatan Megamendung datang untuk membantu petugas kesehatan yang akan melakukan tracing. Warga, lanjutnya, mau melakukan rapid test setelah diberi pengertian.

"Jadi setelah di-backup oleh satgas kecamatan atau desa, mereka mau, paham (tentang tes masif COVID-19)," ucapnya.

Dari tracing ini, Irwan menjelaskan ada 560 orang di Desa Sukagalih dan Kuta yang menjalani rapid test. Hasilnya, 20 orang menunjukkan hasil reaktif.

Jubir Satgas COVID-19 Kabupaten Bogor ini pun mengatakan ke-20 orang reaktif ini dilakukan swab test.

"Nah yang hari pertama 5 orang, tanggal 19, hari itu juga kita kirim ke BBTKLPP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) Jakarta. Nah hasilnya sudah ada, ternyata negatif. Yang 15 (reaktif), itu sudah diperiksa oleh Lapkesda Kabupaten Bogor. Kami belum dapat informasi hasilnya (swab test)," tandas Irwan.

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo mendapat laporan soal tracing atau penelusuran kontak virus Corona massa Habib Rizieq Syihab (HRS) dalam rapat virtual. Petugas di daerah disebut mengalami hambatan saat akan menelusuri kontak.

Menurut keterangan pers dari BNPB, rapat virtual dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Selain itu, satgas di sejumlah kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat dan Banten serta Kepala Suku Dinas Kesehatan dan Puskesmas yang ada di Jakarta.

"Laporan peserta rapat menyebutkan, baik yang di Petamburan (Jakarta) maupun di Megamendung (Bogor), petugas kesehatan masih kesulitan untuk melakukan pelacakan. Mereka dihalang-halangi ketika hendak masuk melakukan tracing dan tracking. Diharap, Satgas COVID-19 Pusat tidak saja memberi tambahan fasilitas swab tetapi juga dukungan agar bisa masuk ke kluster-kluster yang dicurigai berpotensi menjadi pusat penularan," tulis keterangan pers BNPB soal laporan peserta rapat.

Tonton video 'Respons Wagub DKI soal Massa Kerumunan Habib Rizieq Kena Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(imk/imk)