IPW Ungkap Peta Bursa Kapolri Terbaru

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 11:21 WIB
Neta S. Pane
Neta S Pane (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Dinamika pergantian Kapolri baru semakin cair pascarotasi besar-besaran yang dilakukan Jenderal Idham Azis beberapa waktu lalu. Indonesia Police Watch (IPW) menilai rotasi tersebut telah menyingkirkan sejumlah figur dari bursa Kapolri.

"Rotasi yang dilakukan Idham Azis kemarin telah membuat perubahan dalam peta bursa calon Kapolri. Ada figur yang tersingkir dan ada figur baru yang muncul dan berpeluang masuk ke dalam bursa calon Kapolri pengganti Idham Azis," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangannya, Jumat (20/11/2020).

IPW menilai ada tiga kelompok yang terkena rotasi kali ini. Mereka adalah pihak yang terdampak akibat kerumunan Habib Rizieq hingga perwira menengah yang akan mengikuti Sespimti.

"Bagian pertama rotasi dilakukan setelah Presiden Jokowi 'berteriak' kenapa kerumunan massa Rizieq dibiarkan. Yang terkena rotasi adalah Kapolda Metro Nana dan Kapolda Jabar Rudy. Bagian kedua rotasi diakibatkan banyaknya perwira Polri yang pensiun, mulai pamen hingga pati, termasuk Komjen Antam, yang menjabat Sekjen Kementerian Kelautan. Bagian ketiga mutasi akibat adanya puluhan pamen Polri yang mengikuti pendidikan Sespimti," ujar Neta.

Neta juga menyoroti sejumlah orang dekat Jenderal Idham Azis yang bergeser ke posisi strategis. Di sisi lain, rotasi besar-besaran ini juga telah menyingkirkan 'Geng Solo' dalam suksesi Kapolri. Namun Neta tak menyebut nama jenderal yang masuk ke dalam apa yang disebutnya sebagai geng-geng tersebut.

"IPW menilai 'teriakan' Presiden tentang kerumunan massa Rizieq dimanfaatkan Idham untuk melakukan rotasi dalam rangka menyongsong suksesi Kapolri. Dalam hal ini Idham bisa dinilai telah menggeser kekuatan Geng Solo yang selama ini disebut-sebut sebagai calon kuat dalam bursa Kapolri. Namun penggeseran Geng Solo itu atas restu Istana. Tergusurnya anggota Geng Solo otomatis memperkuat Geng Makassar serta memberi peluang bagi Geng Pejaten," ujar Neta.

"Dengan demikian, peristiwa kerumunan massa Rizieq telah dimanfaatkan untuk mengubah peta kekuatan di internal Polri untuk menyongsong suksesi Kapolri pada Januari 2021. Meski penentuan calon Kapolri adalah hak prerogatif Presiden Jokowi, masing-masing kekuatan di internal Polri berusaha mencari peluang dan bermanuver menyuguhkan calon-calon terbaik dari kubunya. Penyuguhan calon-calon terbaik itu dilakukan dengan cara menempatkan figur-figur tersebut di posisi strategis," sambung Neta.

Simak juga video 'Kapolri: Kerumunan Massa Tanpa Protokol Kesehatan Timbulkan Keresahan':

[Gambas:Video 20detik]