Air Tak Ada, WC Mampet, Jamaah Haji Minta Pindah Penginapan

Air Tak Ada, WC Mampet, Jamaah Haji Minta Pindah Penginapan

- detikNews
Rabu, 25 Jan 2006 18:23 WIB
Air Tak Ada, WC Mampet, Jamaah Haji Minta Pindah Penginapan
Madinah - Pemandangan di penginapan Imaratul Habib, kawasan Ijabah, Kota Madinah tampak lain dari penginapan biasanya. Para jamaah haji yang menginap di penginapan ini berkumpul di lobi dan luar penginapan. Mereka tidak mau diinapkan di penginapan tersebut. Ya wajar saja, lha wong air tidak tersedia, sementara WC-nya banyak yang mampet alias rusak. Pemandangan ini terjadi sekitar pukul 10.00 Waktu Arab Saudi (WAS), Rabu (25/1/2006). Nasib ini dialami oleh jamaah haji kloter 60 SUB (Surabaya) asal Lamongan, Jawa Timur. Para jamaah haji yang seharusnya diinapkan di penginapan ini berjumlah 220 orang yang terdiri dari rombongan 1, 3, 6, 9, dan 10. Para jamaah haji dari lima rombongan ini tiba di penginapan, Selasa (24/1/2006) petang seusai waktu magrib. Mereka diangkut dari Makkah menuju Madinah dengan lima bus. Setelah tiba, barang-barang dan koper jamaah diturunkan. Dengan perasaan lelah, sebenarnya para jamaah haji ingin membawa koper dan tasnya sendiri ke kamar masing-masing. Namun, karena lift di penginapan itu tidak berfungsi, jadilah mereka menyerahkan kepada kuli-kuli panggul untuk membawa koper dan tas mereka. Wajah penginapan yang bercat warna kuning kemerah-kemerahan ini sebenarnya cukup lumayan, meski berada di deretan bangunan yang cukup padat dengan jalan tidak beraspal. Penginapan yang berada di bawah Majmuah Muktharah ini terdiri dari lima lantai. Tanpa lift, jelas jamaah haji kewalahan membawa koper dan tasnya, terutama bagi jamaah yang kebagian kamar di lantai tiga hingga lantai lima. Kesan pertama bagi jamaah haji di penginapan ini tidak mengenakkan: lift mati. Kesan kedua, eh...mereka dipungut bayaran saat kuli-kuli panggul itu membawa tas dan koper, yang seharusnya gratis. Kesan selanjutnya, begitu mengernyitkan dahi para jamaah haji. Kondisi kamar cukup baik, para jamaah bisa terima. Namun, betapa kagetnya mereka, saat mereka mengetahui bahwa air tidak tersedia. Jamaah haji juga mendapatkan banyak WC yang mampet, tidak berfungsi. Padahal, saat itu banyak jamaah yang segera ingin buang hajat. "Satu kamar mandi disediakan untuk 20 orang. Apa gak bagus itu," sindir Abu Bakar, salah seorang jamaah. Masalah-masalah ini kemudian disampaikan kepada ketua kloter 60 SUB, Abdul Wahab. Lantas Abdul Wahab meminta kepada pihak penginapan untuk segera memperbaikinya. Abdul Wahab juga melaporkan keluhan-keluhan jamaah haji ini kepada Kantor Sub Daerah Kerja (Sub Daker) IV, yang menguasai wilayah ini. Namun, pihak penginapan tampaknya merespons keluhan ini bagaikan keong berjalan. Hingga malam hari, tidak ada perbaikan sama sekali. Sebagian jamaah memilih menginap di teman-teman satu kloter yang berada di rombongan lain. Namun, sebagian besar mereka terpaksa menginap di penginapan itu, meski tanpa adanya air dan WC yang mampet, dengan hati yang menggerutu. Hari berganti Rabu. Menjelang subuh, para jamaah bangun dan bersiap salat ke masjid Nabawi. Aih....air belum ngocor juga. Terpaksalah, sebagian besar mereka berangkat ke masjid Nabawi untuk ambil air wudhu dan salat. Sekitar pukul 08.00 WAS, mereka datang kembali ke penginapan. Dan mereka menemukan masalah yang dikeluhkannya itu belum juga diperbaiki. Memang, saat itu, ada sejumlah pekerja yang sedang membereskan pompa air. Akhirnya, mereka pun mogok dan memilih berada di luar rumah. "Tidak mungkin kami menginap di sini, wong fasilitasnya seperti ini," kata Wabdul Wahab, ketua kloter. Hingga pukul 11.00 WAS, jamaah haji tetap minta pindah. Saat itu, air sudah mulai ngocor, namun kamar mandi dan WC masih banyak yang mampet. Karena sudah kebelet, sebagian jamaah haji yang terpaksa buang hajat di WC itu, yang akhirnya membuat bau tidak sedap. Ketua Sub Daker IV Usman Ebba bersama Ketua Pengamanan Sub Daker IV Mualim datang ke penginapan untuk menyelesaikan masalah ini. Begitu juga dengan Baihaqi dan Slamet, petugas haji dari Daker Madinah yang menangani kasus-kasus perumahan. Mereka tampak melakukan negosiasi dengan pemilik penginapan dan Majmuah Al Mukhtarah. "Memang sudah harus pindah, karena fasilitasnya mengecewakan. Apalagi jamaah sudah tidak betah," kata Usman Ebba. Setelah bernegosiasi akhirnya pihak majmuah setuju memindahkan para jamaah haji. "Sekarang majmuah sedang mencarikan rumah pengganti secepatnya," kata Baihaqi. Keterangan Foto:Para jamaah haji berkumpul di lobi. Sambil makan katering yang telah disediakan, mereka menunggu pemindahan penginapan. (asy/)


Berita Terkait