Kolom Hikmah

Hindari Sifat Ujub dalam Kontestasi Pilkada

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 06:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Negeri ini akan menyelenggarakan pesta demokrasi bagi daerah yang telah habis masa jabatan Kepala Daerah pada tahun 2021. Sistem Pemilihan Kepala Daerah secara serentak tahun 2020, merupakan penyelenggaraan yang keempat kali di Indonesia. Adapun total daerah yang akan melaksanakan Pilkada serentak ini ada 270 daerah dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota.

Kegiatan yang tersisa saat ini menjelang pelaksanaan Pilkada serentak adalah kampanye dari November 20 sampai 5 Desember 2020, diikuti pekan tenang pada 6 sampai 8 Desember dan puncak agenda 9 Desember 2020 adalah pilihan atau pencoblosan di TPS. Saat ini sampai 5 Desember 2020 merupakan masa 'persaingan' masing-masing peserta atau calon kepala daerah TK I dan TK II, mereka akan beradu visi, misi.

Tentu persaingan ini akan menonjolkan keunggulan program-program mereka untuk mensejahterakan dan memakmurkan warga masyarakat daerah tersebut. Media (cetak dan elektronik) saat ini sudah meramaikan dengan menyampaikan program-program mereka yang hakikatnya adalah menjual program tersebut agar dibeli masyarakat (dipilih).

Menjelang masa tenang makin diramaikan dengan agenda debat calon, dalam perdebatan ini sering terjadi saling adu keunggulan program dan tidak lepas dari saling serang untuk menjatuhkan. Jika ada yang terpojok dan ada yang di atas angin akan diikuti dengan gemuruh tepuk tangan para pendukung.

Dengan semaraknya pesta demokrasi tersebut, bagaimana dengan keyakinan kita khususnya tentang ujub yang menuju pada kesombongan diri. Paling tidak secara lahiriah, mereka dalam penjelasan visi, misi, debat dan lain lain yang mengerucut pada 'pilihlah kami' dan kami lebih baik dari pesaing. Inilah inti dari bahasan kita. Kebanggaan diri dan kesombongan karena merasa lebih baik dari yang lain meski dalam batin, menjadikan kita terbuang sebagai hamba yang dicintai Allah SWT.

Arti Ujub yang sederhana adalah berbangga diri, adapun hakikat ujub adalah merasa besar dengan amal kebaikan yang dilakukan. Sifat ujub harus dihindari karena menjadi penghalang limpahan taufiq dan pertolongan Allah swt.

Sebenarnya orang yang berbangga diri adalah orang yang lemah. Kehebatan seseorang semata-mata karena karunia-Nya, bukan dari kerja kerasnya dan kepandaiannya. Berbangga diri dan merasa atas upaya sendiri dari keberhasilannya, ini akan memalingkan dirinya pada Sang Pencipta.

Coba kita ingat pesan Rasulullah saw, Ada tiga hal yang dapat menghancurkan, yaitu orang bakhil yang ditaati, hawa nafsu yg diikuti, dan bangganya seseorang terhadap dirinya." (hadits diriwayatkan oleh Abu Nu'aim).

Siapapun sebagai hamba hendaknya menghindari akan kehancuran dirinya, oleh karena itu kelola hati agar tidak muncul sifat ujub. Adapun pengaruh ujub terhadap amal perbuatan, sebagian ulama mengatakan, "Orang yang selalu membanggakan diri sendiri hanyalah menunggu waktu gugurnya (amal kebaikan yang ia kerjakan). Jika ia bertaubat sebelum ajal tiba, ia akan terbebas dari kesia-siaan amal. Namun, jika ia tidak bertobat, amal kebaikannya akan digugurkan."

Perhelatan pesta demokrasi ini tidak terlepas dari pengaruh nafsu, mari kita simak senandung syair ini :

"Wahai nafsu, kau selalu menyeretku lakukan keburukan.
Gangguan para penempuh kesempurnaan ibadah.
Nafsu, kau yang jadikan kerusakan, kehinaan, fitnah, kebinasaan, dosa dan musibah.
Bagaimana aku melindungi diri dan melawan musuhku ini?
Sedang musuh ini bersembunyi dalam aliran darahku.
Ikat dan kekang dengan taqwa.
Ya Robbana, Tangan kami, Kaki kami dan Mata hati kami.
Luruskan dan tegakkan.
Pandangan hanya kepada-Mu."

Dalam kontestasi ini tentu banyak kekhilafan yang dilakukan, maka mohon ampunanlah pada Sang Pencipta dengan berdo'a :

Kau wujudkan dirimu hina karena ujub dan katakan, "Wahai yang Mahamulia, siapa yang memberi kemuliaan kepada yang hina selain diri-Mu?" Niscaya Dia akan memberimu kemuliaan-Nya sehingga kau menjadi mulia. Kau tunjukkan bahwa dirimu lemah dan katakan," Wahai Yang Mahakuasa, siapa yang memberi kuasa kepada yang lemah selain diri-Mu?" Dia akan membantumu dengan kekuatan-Nya sehingga kau mampu berbuat apa saja untuk kebaikan.

Ketika kau tampakkan ketidakberdayaanmu, miskin dan kesulitan dan katakan, "Wahai yang Mahakaya, siapa yang akan memberi kekayaan kepada orang yang miskin selain diri-Mu?" Dia akan membantu dengan kekayaan-Nya.

Semoga para calon kepala daerah yang menang dan kalah, telah memperoleh ampunan dari Allah swt.


Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)