Belajar dari Vaksinasi MR, Edukasi Warga Lewat Pendekatan Kultural

Nurcholis Maarif - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 17:24 WIB
Dr. dr. Kohar Hari Santoso, SpAn., KAP., KIC (kiri) dan Wahyoe Boediwardhana (Jurnalis) menjadi pembicara dalam dialog bertema belajar dari sukses vaksin MR di Jawa Timur dan Peran Media dalam Vaksinasi di Jakarta, Selasa, 17 November 2020.
Foto: KPC PEN-Dr. dr. Kohar Hari Santoso, SpAn., KAP., KIC (kiri) dan Wahyoe Boediwardhana (Jurnalis) menjadi pembicara dalam dialog bertema belajar dari sukses vaksin MR di Jawa Timur dan Peran Media dalam Vaksinasi di Jakarta, Selasa, 17 November 2020.
Jakarta -

Vaksin menjadi aset paling ampuh untuk menghadapi penyakit infeksi untuk menghindari terjadinya epidemi hingga pandemi. Beragam virus yang ada harus disesuaikan dengan vaksin yang tepat, seperti campak dan rubella yang menggunakan vaksin MR.

Direktur RSSA Malang dan Ketua Tim Tracing gugus tugas COVID-19 Jatim, Dr. dr. Kohar Hari Santoso menyebut beragamnya kultur dan keyakinan, sering menjadi tantangan para tenaga kesehatan dalam melakukan vaksinasi. Seperti yang terjadi di Jawa Timur dahulu, sebelum berhasil memberikan vaksin MR kepada masyarakat.

"Kadang kala kita tidak bisa edukasi langsung ke masyarakat, tapi dengan pendekatan kultural. Jadi kita merapat kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, para pimpinan wilayah, kemungkinan berikan pemahaman dulu pada tokoh-tokoh tersebut. Kemudian mereka akan berikan sosialisasi, pemahaman ke masyarakat," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/11/2020).

Hal itu diungkapkannya dalam dialog produktif dengan tema 'Belajar dari Sukses Vaksin MR di Jawa Timur dan Peran Media dalam Vaksinasi' di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (17/11/2020).

dr Kohar mengatakan tak hanya berhenti pada edukasi vaksin, namun masyarakat juga harus mendapatkan penjelasan yang cukup mengenai KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang bisa terjadi.

"Kita sudah siapkan tim, ahli-ahlinya, para dokter untuk antisipasi kalau ada efek samping, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Itu kita sudah siapkan." ujarnya.

KIPI sendiri bukanlah hal yang menakutkan, karena biasanya bersifat ringan. Namun, pencegahan untuk mengurangi resiko kejadian ikutan ini tetap harus dilakukan.

"Sebelum disuntikkan (vaksin), yang bersangkutan harus kita periksa dulu, apakah kondisinya cukup fit, cukup sehat. Sehingga kalau kita suntikkan vaksin, bisa tumbuh daya tahannya, atau kekebalannya, atau antibodinya," ujar dr Kohar.

"Kalau dia kondisi sakit, padahal kan kita masukkan penyakit yang sudah kita lemahkan, itu malah bisa menjadi kejadian ikutan (KIPI). Tapi kejadian ikutan yang paling sering terjadi adalah reaksi panas dan pada umumnya bisa diatasi dengan diberikan obat," tambahnya.

Ia juga menyebut adanya anggapan bahwa biaya vaksin mahal adalah keliru. Masyarakat harus sadar bahwasanya mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Tak hanya terhindar dari rasa sakit, namun juga lebih murah dari segi biaya.

"Saya setuju bahwa biayanya (vaksin) tidak sedikit. Tapi mahal itu kan menjadi relatif, dibandingkan dengan nanti kejadian benar, kalau sampai sakit, atau cacat, itu bebannya lebih tinggi, lebih mahal lagi biayanya. Berhitungnya lebih sulit lagi," tegas dr Kahar.

(ega/ega)