Menlu Retno: Diplomasi Indonesia Aktif Kedepankan Isu Pemberdayaan Perempuan

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 18:26 WIB
Menlu Retno Marsudi.
Menlu Retno Mersudi (Rahel/detikcom)
Jakarta -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menekankan perlunya perubahan pola pikir untuk memajukan kesetaraan gender. Retno mengatakan diplomasi Indonesia sangat aktif dalam mengedepankan isu pemberdayaan perempuan.

"Diplomasi Indonesia sangat aktif dalam mengedepankan isu pemberdayaan perempuan. Indonesia juga sangat aktif untuk isu women peace and security. Indonesia juga aktif dalam mengarusutamakan peran perempuan dalam perdamaian," kata Retno dalam telekonferensi tentang hasil pertemuan ASEAN Women Leaders Summit, yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (14/11/2020).

Lebih lanjut, Retno mengatakan pendidikan merupakan cara terpenting guna mengubah pola pikir seseorang. Menurutnya, untuk mendorong kemajuan isu kesetaraan gender, diperlukan perubahan pola pikir.

"Untuk terus mendorong kemajuan kesetaraan gender, diperlukan perubahan cara berpikir, perubahan mindset, dan salah satu cara terpenting untuk mengubah mindset adalah melalui pendidikan," ujarnya.

Selain itu, Retno menyoroti pentingnya jejaring kerja di antara sesama perempuan agar dapat saling memberikan pengalaman dan inspirasi. Menurut Retno, Indonesia turut berpartisipasi aktif dalam memperkuat jejaring Southeast Asian Women Negotiators and Mediator Network.

"Di dalam pertemuan tersebut, saya memberikan contoh jejaring kerja antara para menteri luar negeri perempuan yang sangat kokoh memperjuangkan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Salah satu keaktifan Indonesia di dalam memperkuat jejaring kerja ini adalah dengan membuat Southeast Asian Women Negotiators and Mediator Network," ungkap Retno.

Dalam kesempatan yang sama, Retno mengingatkan semua pihak agar terus mendorong isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Ia menilai ASEAN hanya memiliki waktu 4 tahun untuk mewujudkan cita-cita ASEAN untuk memiliki masyarakat yang inklusif.

"Saya antara lain menyampaikan bahwa kita hanya memiliki waktu 4 tahun untuk mencapai ASEAN Community Vision 2025, cita-cita ASEAN untuk memiliki inclusive community, masyarakat yang inklusif hanya dapat dicapai dengan mendorong isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan," tegasnya.

Di akhir pertemuan, Menlu mengatakan Indonesia telah memasukkan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020-2024. Ia menegaskan isu kesetaraan gender bukan hanya isu bagi perempuan, namun isu semua orang.

"Isu kesetaraan gender bukan merupakan isu perempuan tetapi isu kita semua. Dan upaya untuk mencapai kesetaraan gender akan menjadi fondasi yang kuat untuk membangun komunitas yang inklusif dan lebih resilient," tuturnya.

(hel/aik)