Soroti Kerumunan Massa Habib Rizieq, Epidemiolog: Pemprov DKI Tak Konsisten

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 10:19 WIB
Kedatangan hingga acara yang dihadiri Habib Rizieq dipadati pendukung dan menimbulkan kerumunan di tengah pandemi. Kerumunan itupun mendapat komentar dari sejumlah pihak.
Kerumunan massa Habib Rizieq (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Epidemiolog menyoroti kerumunan massa simpatisan Habib Rizieq Syihab baik di Jakarta maupun di wilayah penyangga, seperti Bogor, Jawa Barat. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai tidak tegas dan tidak konsisten dalam menerapkan aturan terkait adanya pandemi COVID-19.

Kerumunan pertama yang disorot adalah saat massa menjemput kedatangan Habib Rizieq di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Selasa (10/11), hingga di kediaman Habib Rizieq di Petamburan. Massa juga diketahui memadati kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (13/11) dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri Habib Rizieq Syihab.

Epidemiolog Dikcy Budiman menyebut banyaknya massa yang berkumpul pada masa PSBB transisi sebagai bentuk ketidaktegasan Pemprov DKI mengintervensi aturan PSBB. Menurutnya, ketidaktegasan itu dapat merugikan masyarakat luas.

"Ketidaktegasan dan ketidakkonsistenan dalam menerapkan intervensi sosial, physical distancing. Jelasnya, tidak tegas dan akan merugikan masyarakat luas," ujar Dicky saat dihubungi, Sabtu (14/11/2020).

Dicky mengatakan Pemprov DKI Jakarta seharusnya tidak boleh pandang bulu dalam menegakkan aturan terkait adanya pandemi COVID-19. Jika kasus positif kembali melonjak, masyarakat luas akan semakin dirugikan.

"Tidak boleh pandang bulu, tidak boleh juga kendur, karena ini untuk kesehatan masyarakat," ucapnya.

Lebih lanjut Dicky juga menyarankan kepada Habib Rizieq untuk memberi contoh kepada pendukungnya dengan cara melakukan karantina mandiri selama dua minggu. Menurutnya, selama masa karantina, Rizieq sebaiknya membatasi kegiatan bertemu dengan banyak orang.

"Saran saya untuk beliau, karena beliau tokoh besar, banyak pengikutnya, ini kesempatan baik untuk beliau, selain pertama pulang ke Indonesia menerapkan, memberi contoh penerapan karantina secara mandiri dengan baik dan benar. Artinya, tetap di rumah, membatasi mobilitas, interaksi. Jadi, kalaupun ada aktivitas, secara online, virtual dulu, sampai dua minggu," katanya.

"Kemudian menjelaskan ini kepada pendukungnya, bahwa dulu pun ketika zaman Umar pun istilah karantina pun datangnya dari Islam, dari zaman Umar. Artinya, ini kesempatan untuk terutama yang masih abai, yang merasa belum serius untuk bersikap. Nah, ini sangat pas untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan bisa jadi beliau bisa membantu edukasi, memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mendukung pemerintah dalam melandaikan kurva, dengan cara kegiatan 3M, terutama membatasi kegiatan massa banyak," imbuh Dicky.

Tonton video 'Muhammadiyah Minta Pelanggar Protokol COVID Ditindak, Termasuk Ulama Besar':

[Gambas:Video 20detik]