Cerita Perawat-Tentara di Wisma Atlet: Fisik dan Mental Harus Kuat

Nurcholis Maarif - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 10:03 WIB
KPCPEN
Foto: KPCPEN
Jakarta -

Sudah enam bulan Lia Gustina tidak berjumpa dengan anak, suami, dan keluarga di Lampung. Hanya panggilan melalui video yang bisa melepaskan sedikit rasa rindunya di sela-sela tugasnya sebagai perawat di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet.

Meskipun sempat tidak mendapatkan izin dari keluarga, tekadnya yang keras untuk mengabdikan diri pada profesinya mendorongnya terjun langsung menangani pasien COVID-19 sejak April 2020.

"Saya merasa terpanggil dan ingin mengetahui sebenarnya seperti apa yang terjadi. Karena tekad saya keras dan memaksa ingin berangkat, akhirnya keluarga mengizinkan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/11/2020).

Selama bertugas di Wisma Atlet, perempuan yang awalnya bertugas di salah satu puskesmas di Lampung ini mengaku sangat sering berinteraksi dengan pasien dan tak jarang menemui pasien yang stres dan depresi. Hal itu menjadi tantangan tersendiri baginya untuk memastikan pasien selalu dalam kondisi baik dan terus mengalami perbaikan.

"Ada yang pernah mengancam mau bunuh diri, tapi kita ajak ngobrol terus. Saat dia menunjukkan perkembangan, senang sekali rasanya," katanya.

Tantangan saat menangani pasien COVID-19 juga dialami oleh dr. Aulia Giffarinnisa. Sejak bertugas di Wisma Atlet per Agustus 2020, dia mengaku harus melayani setidaknya 50 pasien dalam satu shift.

Penggunaan hazmat dan alat pelindung diri menjadi kendala lain yang harus dialaminya. Meskipun panas dan membuatnya susah bernapas, tetapi tugas mulianya tetapi dijalani demi pasien yang ditangani.

"Di situlah beratnya, bagaimana fisik dan mental harus kuat, dan semuanya juga harus total untuk pasien," ujar perempuan yang akrab disapa Farinni ini.

Dia merasa semua perjuangan dan kerja kerasnya terbayar ketika menemukan hasil swab pasien yang dirawatnya negatif.

"Ada pasien yang sudah dirawat hingga dua bulan, berkali-kali melakukan swab test. Ketika akhirnya hasilnya negatif, dia berterima kasih, itu yang membuat perasaan kami beda," katanya.

Berjuang di garda depan penanganan pasien COVID-19 juga menjadi komitmen Letkol Laut Muhamad Arifin, Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet. Sebagai seorang tentara, tugas yang diembannya jadi bentuk kecintaan kepada Indonesia.

Berbagai pengalaman berhadapan dengan kasus COVID-19 sudah dijalaninya, termasuk ketika pertama kali bertemu dengan orang yang terpapar di kapal pesiar Diamond Princess pada awal 2020 dan diobservasi di Pulau Sebaru selama 20 hari.

"Saat itu memang takut karena pertama kali. Mengenakan APD (alat pelindung diri) harus benar-benar perfect untuk melindungi diri kita saat bertemu pasien," katanya.

Lia, Aulia dan Muhamad Arifin hanyalah sebagian kecil dari banyak pejuang yang telah dan masih bertempur di medan laga pandemi. Jangan biarkan perjuangan mereka sia-sia karena kita lalai dalam menjaga diri. Selalu menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Bersama kita bisa memutus penularan COVID-19.

(akn/ega)