RI Kekurangan Tenaga Medis, MPR Sebut Pendidikan Kedokteran Penting

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 12:43 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid berkunjung ke Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (10/11). Kunjungan kerja itu bertujuan untuk bersilaturahmi dan menjaring aspirasi civitas akademika dari salah satu kampus tertua di Sulawesi Utara itu.

Dalam kesempatan tersebut, pihak UKIT menuturkan keinginannya untuk mendirikan Fakultas Kedokteran. Jazilul pun mendukung rencana tersebut. Ia mengatakan Pendidikan Kedokteran sangat penting karena ketika pandemi terjadi, bangsa ini terbukti kekurangan tenaga medis.

"Jumlah tenaga dokter dan masyarakat juga masih belum imbang. Saya akan ikut mengawal dari keinginan UKIT mendirikan fakultas kedokteran," ucap Jazilul dalam keterangannya, Rabu (11/11/2020).

Dalam tatap muka yang digelar di Aula UKIT, Jazilul mengaku bangga bisa bertemu dengan rektor, pembantu rektor, perwakilan mahasiswa, yayasan, senat, dan para pendeta. Ia mengatakan salah satu tugas MPR adalah mensosialisasikan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau yang lebih populer disebut Empat Pilar MPR.

"Tugas MPR adalah menjaga dan menanamkan Empat Pilar kepada seluruh komponen bangsa," ungkapnya.

Ia berujar sosialisasi ini sangat penting dilakukan karena saat ini masih ada kelompok yang mempertanyakan dan ingin mengganti dasar-dasar negara. Menurutnya, orang-orang yang mempertanyakan dan ingin mengganti dasar negara karena ada sikap ingin menang sendiri. Untuk itu, dirinya mengajak kepada semua untuk meneguhkan hati agar terus menjaga dan setia kepada dasar negara dan nilai-nilai luhur bangsa.

"Hal demikian bisa menjadi bibit-bibit perpecahan. Mudah-mudahan kita terus dituntun Tuhan agar terus bersatu," tuturnya.

Menurut Jazilul, bangsa Indonesia selalu mengedepankan sikap gotong royong. Namun, ia khawatir karena saat ini ada kecenderungan sebagian masyarakat yang lebih memilih budaya konflik.

"Kita mengedepankan dialog bukan budaya konflik. Padahal dasar kita adalah permusyawaratan. Semua permasalahan yang ada diselesaikan dengan cara ini," ucapnya.

Kepada civitas akademika UKIT, Jailul mengatakan kunci keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan. Menurutnya, pendidikan adalah investasi masa depan. Dirinya menyayangkan dunia pendidikan yang ada di Indonesia kurang diperhatikan. Terbukti saat pandemi COVID-19, imbuhnya, bangsa ini tidak siap dengan pendidikan model daring.

"Pendidikan seperti itu harus dievaluasi. Perlunya melakukan evaluasi terhadap pendidikan secara menyeluruh sebab dalam rangking perguruan tinggi di dunia, perguruan tinggi dari Indonesia berada pada posisi di atas nomor 500 ke atas," paparnya.

Dalam masa pandemi, lanjutnya, selain masalah kesehatan dan ekonomi yang diperhatikan, dunia pendidikan juga perlu perlakuan yang sama.

"Apa jadinya kalau ekonominya kuat dan masyarakatnya sehat namun tidak cerdas," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut dirinya mengajak kepada mahasiswa yang hadir untuk terus semangat belajar.

"Pandemik membuat hubungan antara mahasiswa dan dosen menjadi berkurang. Kita jadikan suasana yang ada untuk bangkit," tegasnya.

Hadir dalam acara tersebut, Rektor UKIT Pendeta Dr. Arthur Rumengan, para pembantu rektor, pihak yayasan, ketua senat, pengurus BEM, serta para pendeta.

(mul/ega)