Warga di Makassar Tawuran, Polisi dan Pos Pengamanan Ikut Diserang

Reinhard Soplantila - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 07:28 WIB
pemuda melempar Batu pada musuhnya
Foto: Ilustrasi tawuran (Edi Wahyono).
Makassar -

Tawuran antarwarga terjadi di Jalan Barukang Raya, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tidak hanya baku serang, polisi yang tengah melakukan penjagaan di pos pengamanan di sekitar TKP turut diserang para pelaku.

Peristiwa bentrok ini diketahui terjadi antara warga Barukang melawan warga Cambayya di tengah jalan raya pada Jumat sekitar pukul 02.00 WITA. Aparat yang mendapatkan laporan tawuran hingga penyerangan pos polisi langsung mendatangi lokasi dan membubarkan tawuran.

"Pos PAM tersebut diserang oleh kelompok dari Barukang yang semua keluar dari Jalan Barukang 2 dan Jalan Bolu, kemudian anggota berlindung di dalam kantor Pegadaian. Mendapat informasi tersebut kemudian Sabhara Polres Pelabuhan Makassar bergerak dari Mako untuk melakukan tindakan-tindakan kepolisian dengan melakukan tindakan tegas terukur," ujar Kasat Sabhara Polres Pelabuhan Makassar, Iptu Asfada, Jumat (6/11/2020).

Aparat yang turut menurunkan mobil water cannon serta serta patroli motor untuk membubarkan tawuran langsung membubarkan bentrokan hingga para pelaku lari berhamburan. Usai melakukan pembubaran, polisi juga melakukan penyisiran serta razia di sekitar TKP.

Hasilnya, anggota mendapati dan mengamankan lima orang pria yang mencurigakan ke Mapolres Pelabuhan Makassar untuk diperiksa. Bahkan, satu dari pria itu didapati membawa parang.

"Dengan menggunakan water cannon dan melakukan razia dari hasil razia yang kita temukan pagi hari ini ada 5 orang yang kita amankan, salah satunya membawa senjata tajam. Untuk 5 orang tersebut kita amankan dulu ke Mako untuk melakukan penyelidikan apabila terbukti maka kita akan proses hukum namun jika tidak terbukti kita akan kembalikan kepada keluarganya," kata Asfada.

Berdasarkan keterangan polisi, penyerangan terhadap anggota polisi dilakukan lantaran para pelaku tawuran tidak senang aksi bentroknya hendak dibubarkan.

"Jadi selama ini memang salah satu kelompok yang kelompok ini tidak senang apabila ada polisi yang datang untuk melakukan pencegahan terhadap kedua kelompok ini, salah satu kelompok ini pada saat kita datang itu sudah kabur namun kelompok Barukang ini yang kebanyakan orang dari luar masuk ke dalam sini membantu, itulah yang lalu melakukan perlawanan baik menggunakan senapan angin, busur, bom molotov, maupun batu dan balok," jelas Asfada.

Sementara itu, motif tawuran ini diketahui terjadi karena dendam lama antarkedua kelompok. Salah satu kelompok mengaku warganya pernah menjadi korban penganiayaan yang akhirnya saling balas.

"Yang selama ini yaitu kelompok Barukang melawan kelompok Cambayya, adapun permasalahan yang selalu di dilempar adalah kasus-kasus lama dendam-dendam lama yang pernah dikeroyok kemudian disambung dengan penganiayaan juga itulah yang berkepanjangan sampai saat ini," ungkap Asfada.

(gbr/gbr)