Pesan Penyintas COVID-19: Jaga Kesehatan & Positive Mindset

Nurcholis Maarif - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 19:36 WIB
Terinfeksi COVID-19 bukanlah akhir dunia. Itulah yang dirasakan Stevanus Grandy Budiawan ketika mengetahui dirinya positif terinfeksi virus Corona.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Terinfeksi COVID-19 bukanlah akhir dunia. Itulah yang dirasakan Stevanus Grandy Budiawan ketika mengetahui dirinya positif terinfeksi virus Corona. Ia menyebut menjaga pikiran agar tetap positif menjadi hal penting dalam proses untuk sembuh.

Stevanus mengisahkan dia, istri, dan kedua anaknya dinyatakan terinfeksi COVID-19 tak lama setelah pemerintah melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) I di Jakarta. Awalnya, hanya istrinya yang dikonfirmasi COVID-19 setelah menderita radang tenggorokan dan demam tinggi.

Kemudian dia dan kedua anaknya berinisiatif melakukan swab test. Hasil dari swab test menyatakan jika dia dan kedua anaknya terinfeksi virus COVID-19.

"Satu gejala yang muncul dan kelihatannya COVID-19, (istri saya) mulai hilang indra penciuman. Padahal keseharian indra penciumannya tajam sekali," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2020).

Hal itu diungkapkannya dalam Dialog Produktif 'Vaksin: Intervensi Kesehatan Masyarakat yang Efektif dan Aman' di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (3/11/2020).

Meskipun mengaku kaget, Stevanus berkomitmen untuk tetap tenang dalam menghadapi musibah tersebut. Tak lama setelah mendapatkan hasil swab test, ia langsung menghubungi ketua RT dan RW, serta puskesmas terdekat mengenai keadaan keluarganya.

"Awalnya saya diminta rawat inap karena saya mempunyai riwayat darah tinggi dan gangguan jantung. Tetapi saya ngerasa sehat banget, tidak ada demam batuk. Saya memilih isolasi mandiri dengan keluarga," jelasnya.

Selama melakukan isolasi mandiri bersama keluarga, dia menyatakan selalu mengatur pola makan sehat, mengonsumsi vitamin secara rutin, dan selalu berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi.

Namun, satu hal yang paling penting menurutnya adalah menjaga pola pikir yang positif sehingga mampu mempercepat proses penyembuhannya.

"Menjaga kesehatan (itu penting) dan positive mindset, dijalani sama-sama. Bukan cuma kita pasiennya, tapi ada di seluruh dunia," tekannya.

Dia pun mengapresiasi dukungan tetangga sekitar dan tenaga kesehatan terhadap keluarganya. Pasalnya di lingkungan kompleksnya, keluarganya merupakan klaster pertama yang terinfeksi COVID-19.

"Tetangga di sini luar biasa, saya pasien pertama di kompleks kami, shock therapy (bahwa virus ini) bisa terjadi (di manapun) kompleks kita," katanya.

Setelah menjalani isolasi mandiri selama 14 hari dan dinyatakan sembuh, keluarganya memutuskan untuk menjalani isolasi mandiri lebih panjang sekitar 1 bulan untuk menjalani masa penyembuhan. Bahkan setelah sembuh, dia mengaku tidak banyak perubahan dalam kesehariannya. Keluarganya tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan tentunya tidak segan menegur orang yang tidak menggunakan masker.

"Saya pakai prinsip anggap orang lain yang berhadapan dengan kita OTG. Kita tidak tahu dia sakit atau tidak, tapi kita harus berhati-hati," katanya sembari menutup perbincangan.

(akn/ega)