HNW Sebut RI Punya Potensi Perpecahan Lebih Besar dari Uni Soviet

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 19:56 WIB
Temu Tokoh Nasional / Kebangsaan
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengingatkan Indonesia adalah negara yang memiliki potensi perpecahan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari Uni Soviet, negara yang saat ini sudah hilang dari peta dunia. Bekas wilayah Soviet sudah menjadi negara-negara kecil yang memiliki nama sendiri-sendiri. Hal tersebut lantaran Indonesia memiliki keragaman mulai dari suku hingga bahasa.

"Keberagaman di Indonesia jauh lebih besar dibanding Uni Soviet. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa dan bahasa. Selain itu, Indonesia juga memiliki keragaman agama. Semua itu membuat potensi perpecahan di Indonesia sangat tinggi," kata HNW dalam keterangannya, Kamis (5/11/2020).

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA, secara virtual saat menjadi pembicara pada acara Temu Tokoh Nasional / Kebangsaan di hadapan keluarga besar Yayasan Pendidikan Ruhama Depok.

Acara tersebut berlangsung di ruang pertemuan SMPIT-SMAIT Ruhama, Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (5/11) kemarin. Selain Hidayat acara tersebut juga menghadirkan pembicara dari tokoh masyarakat Jawa Barat TB. Soenmandjaja.

Meski punya potensi untuk pecah, Hidayat mengatakan Indonesia berdiri di atas kesepakatan para pendirinya, sehingga membuat Indonesia tetap bersatu meski diterjang ancaman perpecahan. Salah satu kesepakatan yang penting bagi NKRI adalah Sumpah Pemuda yang merupakan tekad bulat para perwakilan pemuda dari berbagai wilayah Indonesia untuk melebur diri ke dalam Indonesia.

"Padahal, saat datang di acara tersebut, masing masing perwakilan pemuda, itu memiliki bangsa dan bahasa yang berbeda-beda. Tetapi, mereka mau menerima kesepakatan untuk meleburkan diri ke dalam Bangsa, Bahasa dan Tanah Air Indonesia," kata HNW menambahkan.

Selain Sumpah Pemuda, HNW menyebut kesepakatan tentang dasar dan Ideologi Pancasila yang terjadi pada 18 Agustus 1945, membuat persatuan dan kesatuan Indonesia semakin kokoh. Padahal, sebelum Pancasila disepakati sebagai dasar dan ideologi negara, sempat terjadi ketegangan yang berpotensi menyebabkan perpecahan.

"Saat itu perwakilan masyarakat Indonesia Timur, berkeberatan terhadap tujuh kata yang ada dalam piagam Jakarta. Beruntung, para pendiri bangsa bisa menerima keberatan tersebut, dan selamatlah Indonesia dari perpecahan," kata Hidayat lagi.

HNW pun berharap seluruh kesepakatan yang pernah dibuat para pendiri bangsa, itu terus dipertahankan. Sehingga tidak boleh ada upaya untuk mengingkari kesepakatan yang pernah dibuat apalagi mengganti. Apabila terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia akan bernasib sama dengan Uni Soviet.

Ikut hadir pada acara tersebut, Ketua DPRD kota Depok Ir. Teungku Muhammad Yusuf Saputra, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok: Mohammad Thamrin, S.Sos., MM, Pembina Yayasan Pendidikan Ruhama H. Bambang Sutopo, MM, MBA dan Hj. Agustin Kurniawati, S.Pd. serta Ketua Yayasan Pendidikan Ruhama, H. Arafi Mughni.

(mul/ega)